Kolam Warisan Belanda di Kaki Gunung Poteng Kota Singkawang
Namun, tantangannya tidak sedikit. Volume air yang mengalir dari atas kini sangat kecil, karena sistem tutup-buka bendungan tidak lagi berfungsi denga
Penulis: Widad Ardina | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Di lereng sejuk kaki Gunung Poteng, Kelurahan Pajintan, Singkawang Timur, tersembunyi jejak peninggalan sejarah yang kini kembali dibangkitkan yakni kolam renang pemandian peninggalan Belanda.
Lokasi ini, yang dulunya sempat menjadi primadona masyarakat, perlahan mulai ditinggalkan seiring waktu.
Namun kini, semangat baru mulai menyala untuk menjadikannya destinasi ekowisata unggulan yang berbasis sejarah, budaya, dan kekuatan masyarakat lokal.
Lurah Pajintan, Indra Ervina, menuturkan kolam ini adalah warisan berharga yang sejak 2025 mulai digiatkan kembali agar bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar, sekaligus menjadi magnet wisata Kota Singkawang bagian timur.
“Kolam renang di kaki Gunung Poteng ini peninggalan Belanda yang sangat bersejarah. Sekarang kita bangkitkan lagi agar bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya, saat diwawancarai pada Selasa 27 Mei 2025.
Kolam renang ini terhubung langsung dengan dua bendungan tua di atas bukit, yang juga dibangun di masa kolonial.
Namun, tantangannya tidak sedikit. Volume air yang mengalir dari atas kini sangat kecil, karena sistem tutup-buka bendungan tidak lagi berfungsi dengan baik.
• Proses PAW HA Masih Berjalan, Ketua DPRD Singkawang: Baru SK Pemberhentian Sementara
Ditambah musim kemarau panjang, debit air ke kolam menurun drastis.
“Kalau tutup-buka airnya bisa difungsikan, sebenarnya air yang mengalir ke kolam akan jauh lebih deras. Tapi sekarang karena sistem itu tidak berjalan, air jadi terbagi dan debitnya kecil,” jelasnya.
Proses revitalisasi ekowisata ini tidak hanya soal air.
Lokasi kolam yang berada hanya 30 meter dari kawasan hutan lindung Cagar Alam Raya Pasi menuntut kehati-hatian dalam pembangunan.
Oleh karena itu, pihak kelurahan menggandeng masyarakat adat Bino Garantuk Sakawok serta membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk memastikan pengelolaan dilakukan secara lestari.
Berbagai rencana pun mulai disusun pembuatan pintu air, pembangunan area perkemahan, flying fox, hingga area UMKM dan rumah adat mini untuk pagelaran budaya serta promosi kuliner dan kerajinan khas Dayak setempat.
“Kami ingin kelola kolam utama dulu, lalu bangun tempat camping, dan ke depan akan ada rumah adat mini untuk pementasan budaya dan UMKM,” kata Indra.
Namun, jalan menuju lokasi masih menjadi hambatan utama. Jalan yang rusak parah dan terjal membuat akses menuju kawasan wisata ini tidak ramah kendaraan.
| 10 Lokasi Sholat Idul Adha 2026 di Singkawang, dari Masjid Agung Hingga Lapangan Terbuka |
|
|---|
| Mahasiswa Poltesa Ajak Perkuat Kesadaran Isu Kekerasan Seksual di Kampus |
|
|---|
| Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi, Warga dan Disnaker Kota Singkawang Beri Tanggapan |
|
|---|
| Lestarikan Adat dan Budaya, Desa Senakin Gelar Ritual Nabo' Panyugu Dalam Roah Perdana |
|
|---|
| Satgas PAD Temukan Aktivitas Tambang Diduga di Luar IUP, Pajak MBLB Menjadi Wajib |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Susana-kolam-peninggalan-Belanda-di-kaki-Gunung-Poteng234ew.jpg)