Semburan Lumpur di Mempawah
7 Fakta Semburan Lumpur di Mempawah, Ternyata Bukan Pertama Kalinya
Kapolsek Jongkat Ipda Fadhila Nugrah Sakti mengatakan peristiwa yang sempat menghebohkan warga dan jagat maya tersebut terjadi sekira pukul 13.00 WIB.
Pengeboran pertama di dalam kawasan pondok, namun setelah 100 meter pengeboran, tidak didapati sumber air. Lalu, pengeboran sumber air dipindahkan ke depan bangunan pondok, tepatnya di depan pagar.
Masih ingat dibenaknya dengan jelas, saat itu hari Kamis, malam Jumat, sekitar pukul 21.00 pengeboran dilakukan. Pada pukul 22.00, pengeboran telah mencapai 40 meter, dan saat itu terjadi ledakan dan Lumpur menyembur keluar selama satu hari satu malam.
"Pukul sepuluh malam, pas 40 meter meledak, itu satu hari satu malam keluar," ungkapnya.
Kemudian, pada tahun 2006, dari pemerintah Kabupaten Mempawah (saat itu Kabupaten Pontianak, red) melakukan pengeboran ke dalam tanah di kawasan Pesantren untuk melihat kandungan gas di dalam tanah.
"Setelah itu di bor, sudah 40 meter, yang mengebor ketakutan. Saat itu, yang ngebor sempat bilang, Pak Kiai minta doanya, takut katanya," tutur KH Husnan.
"Sudah masuk 40 meter, karena saat itu mau Iduladha, yang mengebor pulang, tidak dilanjutkan dulu, jam 22.00 meledak lagi," tambahnya.
• Semburan Lumpur Mempawah, BPBD Kalbar Lakukan Koordinasi Terkait Potensi Kandungan Gas Alam
Setelah sekian tahun, sebelum bulan Ramadhan tahun ini, ada pihak ketiga yang menawarkan untuk pembangunan sumur bor kepada pihak pondok.
"Karena kami kekurangan air bersih, dua hari saja tidak hujan kami kekurangan, jadi saya terima. Tadi pagi ditelepon, ada yang mau mengerjakan sumur bor, jadi saya arahkan di belakang Lab karena di situ juga ada sumurnya, karena itukan jarak jauh dari posisi yang dulu adalah 100 meter lebih," ujarnya.
Lalu, saat proses pengerjaan dengan kedalaman 40 meter kembali terjadi semburan Lumpur, dimana saat kejadian dirinya sedang berada di luar pondok. Saat itu dirinya langsung kembali ke pondok.
"Syukur alhamdulillah satu jam berhenti semburan lumpurnya, kalau tidak habis bangunannya," tuturnya.
Rugi Rp500 juta
Akibat semburan lumpur ini, ia memperkirakan kerugian hingga Rp 500 juta. Sebab bangunan laboratorium yang rusak diperkirakan tidak dapat digunakan kembali karena rawan roboh.
Saat ini, santri dan santriwati di pondok pesantren tersebut berjumlah lebih dari 400 orang, yang terdiri dari sekolah dasar, menengah, hingga atas.
Bangunan Laboratorium Rawan
Terpisah, Tim Relawan Rumah Zakat Pontianak, Midun, mengatakan akibat semburan lumpur bangunan laboratorium rawan untuk jadikan tempat tinggal.
Begini Tindak Lanjut Semburan Lumpur di Pontren Nurul Alamiyah Wajok Hilir Mempawah Awal Mei 2023 |
![]() |
---|
BPBD Kalbar Sebut Semburan Gas di Desa Wajok Hilir Jongkat Tunjukkan Adanya Potensi Gas |
![]() |
---|
Belajar Mengajar di Pondok Pesantren Nurul Alamiyah Terganggu, Santri Hafalan Quran di Tenda |
![]() |
---|
BPBD Mempawah Ukur Debit Air dan Ambil Sampel di Lokasi Semburan Lumpur |
![]() |
---|
Kronologis Semburan Lumpur, Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar Tunggu Hasil Penelitian DLH |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.