Semburan Lumpur di Mempawah

7 Fakta Semburan Lumpur di Mempawah, Ternyata Bukan Pertama Kalinya

Kapolsek Jongkat Ipda Fadhila Nugrah Sakti mengatakan peristiwa yang sempat menghebohkan warga dan jagat maya tersebut terjadi sekira pukul 13.00 WIB.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Endro
Semburan lumpur di Pondok Pesantren Nurul Amalliyah, Desa Wajok Hilir, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, Kalbar, senin 8 mei 2023 

Pengeboran pertama di dalam kawasan pondok, namun setelah 100 meter pengeboran, tidak didapati sumber air. Lalu, pengeboran sumber air dipindahkan ke depan bangunan pondok, tepatnya di depan pagar.

Masih ingat dibenaknya dengan jelas, saat itu hari Kamis, malam Jumat, sekitar pukul 21.00 pengeboran dilakukan. Pada pukul 22.00, pengeboran telah mencapai 40 meter, dan saat itu terjadi ledakan dan Lumpur menyembur keluar selama satu hari satu malam.

"Pukul sepuluh malam, pas 40 meter meledak, itu satu hari satu malam keluar," ungkapnya.

Kemudian, pada tahun 2006, dari pemerintah Kabupaten Mempawah (saat itu Kabupaten Pontianak, red) melakukan pengeboran ke dalam tanah di kawasan Pesantren untuk melihat kandungan gas di dalam tanah.

"Setelah itu di bor, sudah 40 meter, yang mengebor ketakutan. Saat itu, yang ngebor sempat bilang, Pak Kiai minta doanya, takut katanya," tutur KH Husnan.

"Sudah masuk 40 meter, karena saat itu mau Iduladha, yang mengebor pulang, tidak dilanjutkan dulu, jam 22.00 meledak lagi," tambahnya.

Semburan Lumpur Mempawah, BPBD Kalbar Lakukan Koordinasi Terkait Potensi Kandungan Gas Alam

Setelah sekian tahun, sebelum bulan Ramadhan tahun ini, ada pihak ketiga yang menawarkan untuk pembangunan sumur bor kepada pihak pondok.

"Karena kami kekurangan air bersih, dua hari saja tidak hujan kami kekurangan, jadi saya terima. Tadi pagi ditelepon, ada yang mau mengerjakan sumur bor, jadi saya arahkan di belakang Lab karena di situ juga ada sumurnya, karena itukan jarak jauh dari posisi yang dulu adalah 100 meter lebih," ujarnya.

Lalu, saat proses pengerjaan dengan kedalaman 40 meter kembali terjadi semburan Lumpur, dimana saat kejadian dirinya sedang berada di luar pondok. Saat itu dirinya langsung kembali ke pondok.

"Syukur alhamdulillah satu jam berhenti semburan lumpurnya, kalau tidak habis bangunannya," tuturnya.

Rugi Rp500 juta

Akibat semburan lumpur ini, ia memperkirakan kerugian hingga Rp 500 juta. Sebab bangunan laboratorium yang rusak diperkirakan tidak dapat digunakan kembali karena rawan roboh.

Saat ini, santri dan santriwati di pondok pesantren tersebut berjumlah lebih dari 400 orang, yang terdiri dari sekolah dasar, menengah, hingga atas.

Bangunan Laboratorium Rawan

Terpisah, Tim Relawan Rumah Zakat Pontianak, Midun, mengatakan akibat semburan lumpur bangunan laboratorium rawan untuk jadikan tempat tinggal.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved