Semburan Lumpur di Mempawah

Kronologis Semburan Lumpur, Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar Tunggu Hasil Penelitian DLH

Nantinya hasil penelitian kata Daniel menentukan kebijakan pemerintah, bagaimana kelangsungan dari pondok pesantren khususnya bangunannya. Karena jika

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/FILE
Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan petugas di lapangan. Update dari video terkini kata Daniel, kondisi lubang lupur semakin membesar dan ada gelembung kecil. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Semburan lumpur yang bermula dari proses pembuatan sumur bor di Pondok Pesantren Nurul Alamiyyah, Desa Wajok Hilir, Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah sempat menghebohkan warga pada Senin 8 Mei 2023.

Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan petugas di lapangan. Update dari video terkini kata Daniel, kondisi lubang lupur semakin membesar dan ada gelembung kecil.

"Ini ada indikasi masih ada gas, hanya secara teknis yang dapat mengetahui ini adalah DLH yang sekarang masih melakukan penelitian apa ada indikasi gas di seluruh area," ujarnya dalam Triponcast dengan tema Fenomena Semburan Lumpur di Wajok Rabu 10 Mei 2023.

Nantinya hasil penelitian kata Daniel menentukan kebijakan pemerintah, bagaimana kelangsungan dari pondok pesantren khususnya bangunannya. Karena jika terindikasi adanya gas akan sangat mengancam keselamatan para santri dan masyarakat sekitar.

Kolam Lumpur Berdiameter Besar Terbentuk Pasca Semburan yang Terjadi di Wajok Hilir

"Saat ini kita sudah memberikan arahan atau semacam rekomendasi kepada pihak pondok supaya menghindari tempat kejadian sehingga bangunan lab ini dikosongkan. Kemudian tidak ada aktivitas di sana kita bersyukur ruangan belajar dan kamar para santri ini agak jauh dari tempat kejadian," ujarnya.

Meskipun kata Daniel masyarakat sekitar mengatakan itu hal biasa karena beberapa tahun sebelumnya pernah terjadi dan ini merupakan kali ketiga. Namun semburan lumpur tersebut merupakan hal yang berbahaya.

"Pertama dan kedua itu jumlah material yang dikeluarkan justru bongkahan batu-batu besar dan kerikil jauh lebih besar dari yang sekarang. Jadi ini sudah pernah terjadi, yang panik justru kita tapi kita berharap ini bisa kita atasi kita masih menunggu hasil penelitian yang dilakukan instansi terkait DLH Mempawah," paparnya.

Daniel mengatakan tinggal di sekitar pemukiman yang terdapat gas sangat mengancam. Namun pihaknya masih menunggu penelitian yang mana dari penelitian tersebut akan menghasilkan rekomendasi, apakah area tersebut aman ataukah hampir ada gas di setiap area.

"Jika demikian tentunya bangunan atau pondok ini harus kita pindahkan.
Ini sangat berbahaya, hasil penelitian sangat kita tunggu. Awal mulanya karena mereka tidak memiliki sumber air dan hanya mengkonsumsi air untuk minum dari air hujan seiring bertambahnya jumlah santri hingga 400 orang mereka membutuhkan pasokan air bersih selain air hujan yang mereka tampung," ujarnya.

Akhirnya pihak pondok membuat sumur bor yang mana sebenarnya lubang yang mengeluarkan lumpur panas merupakan sumur bor yang kedua. Sumur bor yang kedua dibuat kata Daniel tepat di belakang lab, setelah digali dalam 40 meter keluarlah semburan api dan pasir lumpur air yang ketinggiannya sampai 5 meter.

Kejadiannya pukul 11.00 hingga 13.00 WIB, di mana lubang awalnya sebesar botol hingga membesar sebesar kolam.

"Jika di area tersebut terdapat gas tidak hanya santri tetapi masyarakat juga kita amankan karena di situ ada pemukiman. Jika memang seluas itu terdapat gas maka tentunya karena ini lembaga pendidikan kita berkoordinasi dengan dinas kementerian Agama tokoh masyarakat orang tua siswa, jika terdapat gas maka rekomendasinya harus dipindahkan," ungkapnya. (*)

Ikuti Terus Berita Lainnya di Sini

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved