Kadis KBP3A Sintang Dukung Riset Efektivitas Bischo untuk Turunkan Stunting

KBP3A Kabupaten Sintang, Edy Harmaini, menyatakan dukungan penuh terhadap launching riset efektivitas biskuit Bischo

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Agus Pujianto
BERIKAN KETERANGAN - Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kabupaten Sintang, Edy Harmaini ditemui di Puskemas Tanjung Puri.  
Ringkasan Berita:
  • Edy Harmaini mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Sintang masih tergolong tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting di Sintang mencapai 31 persen. 
  • Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angkanya bahkan mencapai 34 persen.
  • Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sintang memiliki target yang cukup berat, yakni menurunkan angka stunting menjadi 15 persen pada akhir tahun 2029.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kabupaten Sintang, Edy Harmaini, menyatakan dukungan penuh terhadap launching riset efektivitas biskuit Bischo yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Puri. 

Riset ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sintang.

Edy Harmaini mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Sintang masih tergolong tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting di Sintang mencapai 31 persen. Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angkanya bahkan mencapai 34 persen.

“Perbedaan angka ini terjadi karena perbedaan metode dan surveyor. Namun secara nasional yang digunakan adalah angka SSGI, yaitu 31 persen,” jelas Edy Harmaini.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sintang memiliki target yang cukup berat, yakni menurunkan angka stunting menjadi 15 persen pada akhir tahun 2029.

“Target penurunan ini cukup tinggi, sehingga tidak mungkin bisa kita capai sendiri. Semua harus dilakukan secara kolaboratif,” tegasnya.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan, lanjut Edy, adalah pemanfaatan produk lokal Bischo sebagai pendamping makanan tambahan bagi balita. Bischo merupakan biskuit berbahan dasar ikan gabus yang diproduksi di Kabupaten Sintang.

Baca juga: Kolaborasi Pemda, Swasta, dan Akademisi, Riset Bischo Dimulai di Sintang, 16 Balita Jadi Sampel

“Hari ini kita memberikan Bischo sebagai salah satu bentuk intervensi gizi. Ini adalah produk lokal kebanggaan Sintang yang kita dorong untuk mendukung penurunan stunting,” ujar Edy. 

Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas Bischo dalam meningkatkan status gizi balita, Pemerintah Kabupaten Sintang menggandeng akademisi dari STIKARA Sintang untuk melakukan riset ilmiah.

“Selama 90 hari ke depan akan dilakukan pemantauan, pengukuran, dan penimbangan. Dari situ akan diketahui apakah ada efektivitasnya, apakah berat badan anak tetap atau mengalami peningkatan,” jelas Edy Harmaini.

Ia berharap hasil riset tersebut nantinya dapat diseminarkan dan menjadi dasar pengambilan kebijakan yang lebih luas. Jika hasilnya menunjukkan efektivitas yang signifikan, Edy menyebut Bischo berpotensi menjadi salah satu model intervensi gizi yang dapat diterapkan tidak hanya di Puskesmas Tanjung Puri, tetapi juga di puskesmas lain, bahkan di kabupaten lain.

“Ini bisa menjadi langkah awal yang baik, dimulai dari Puskesmas Tanjung Puri, lalu diperluas ke puskesmas lainnya, bahkan ke daerah lain,” ujarnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved