Pakar Budaya Jelaskan Asal Usul Tradisi Ngamping di Sambas

Hal itu sebagai ungkapan syukur atas keberlangsungan perkawinan juga harapan agar perkawinan mendatangkan keberkahan hidup. 

Penulis: Imam Maksum | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Poster Festival Ngamping Kabupaten Sambas. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Pakar Budaya Kabupaten Sambas Dr Sunandar mengungkapkan sejarah tradisi Ngamping yang kental bagian budaya masyarakat agraris, Rabu 13 November 2024.

Sunandar mengatakan, tradisi Ngamping sebenarnya wujud dari budaya masyarakat agraris yang bercocok tanam. Kendati, awal mula tradisi ini sangat sulit dilacak.

"Mengingat sulitnya menemukan data yang berhubungan dengannya. Akan tetapi tradisi ini dapat dijelaskan melalui peninggalan-peninggalan masyarakat dalam bentuk budaya dan prilaku yang masih ada," kata Dr Sunandar, Rabu 13 November 2024.

Dia menuturkan, Ngamping tentu saja setua masyarakat mengenal padi. Kemudian menjadi bahan makanan pokok diolah menjadi beras. 

Perlu diingat, kata Sunandar, masyarakat Nusantara pada awalnya tidak mengkonsumsi padi atau beras sebagai makanan pokok. Mereka mengenal umbi-umbian dan umbut-umbutan sebagai makanan pokoknya. 

"Dalam catatan Anthony Reid bahwa di abad ke-15 masyarakat Asia Tenggara telah banyak membudidayakan padi dan menjadikannya sebagai makanan pokok," ujarnya.

Dia bilang mereka sebelumnya menjadikan talas, umbi, sagu dan sejenis gandum sebagai makanan pokok. Itu berlaku di sepanjang Asia Tenggara.

"Kehadiran padi sebagai makanan pokok nampaknya dipandang begitu penting di Nusantara terutama Indonesia, telah menjadi bahan makanan pokok ribuan tahun yang lalu," katanya. 

Lebih kuat, katanya, kita akan menemukan relief-relief pada candi yang mempersembahkan padi/beras kepada raja. 

Baca juga: Temu Dialog Pemuka Lintas Agama, Kapolres Sambas Ajak Wujudkan Pilkada Damai

"Kemunculan kisah Dewi Sri di Jawa atau kisah Putri Junjung Buih di Banjar begitu juga di Kutai wilayah Borneo yang mempunyai hubungan dalam penemuan tanaman padi," ungkapnya.

Dia menuturkan, padi dalam hikayat-hikayat yang terdapat di Borneo seperti Hikayat Banjar dan Salsilah Kutai memandang padi sebagai simbol kemakmuran, baik pra-Islam maupun ketika Islam datang dalam wilayah ini. 

"Bahkan, ketika Islam datang, di Kutai kemakmuran semakin terlihat yang ditandai dengan suburnya padi. 

“Kutai Kertanegara makin makmur, beras melimpah-limpah, padi subur menguning di mana-mana tempat, buah-buahan bertimbun-timbun di pasar. Ramailah orang berjual beli dan berdagang sampai ke daerah Seberang," ucapnya.

Dia menerangkan, di dalam masyarakat tradisional yang membentang di Asia Tenggara padi dianggap memiliki roh, sehingga ketika panen perlu diperhatikan.

"Salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan ‘ani-ani/ketam’ dan mengambilnya setangkai demi setangkai, itu dilakukan dalam rangka menghormati roh menurut tulisan Reid," jelasnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved