Kurangnya Serapan Karbon Akibatkan Asap Karhutla Sulit Hilang

Di sisi lain dengan adanya kebakaran hutan dan lahan ini menurut Agus, petani jadi korban tuduhan pelaku yang membakar hutan tersebut.

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Direktur Teraju Indonesia Agus Sutomo 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Direktur Teraju Indonesia Agus Sutomo menjelaskan asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) susah hilang karena serapan karbon berkurang.

“Menurut hasil kajian di tahun 2012-2015 pembakaran hutan dan lahan itu semakin masif, karena memang ekspansi industri ekstraktif juga masif, karena pembukaan lahan dengan cara membakar itu merupakan cara yang murah,” katanya kepada tribun pontianak pada Selasa, 2 Januari 2023.

“Kemudian kenapa asap dari hasil karhutla itu seakan-akan mengepung kota dan adanya indikasi ispa dan lain sebagainya, karena memang pohon-pohonnya sudah berkurang, jadi serapan karbon dan segala macamnya sudah menipis,” jelasnya.

Dengan adanya pebukaan lahan dengan sekala besar ia juga mengatakan dapat terjadi pada pembukaan lahan dengan adanya pertambangan boksit dan lain-lain.

“Karena tidak dalam waktu yang cepat untuk mengembalikan fungsi lahan yang sudah dibuka menjadi pertambangan dan kemudian menjadi hutan kembali, itu sangat lama,” katanya.

Baca juga: Karhutla Masih Berpotensi Terjadi di Beberapa Wilayah Kalbar Hingga Tanggal 9 Januari 2023

Dengan adanya kegiatan tersebut dikatakannya tidak ada lagi serapan asap dan dapat terjadi polusi udara.

“Hingga saat ini juga belum kita ketahui proses hukumnya paling hanya denda, kemudian tidak menyeret kemudian pemilik-pemilik korporasinya harus bertanggung jawab secara penuh,” katanya.

Di sisi lain dengan adanya kebakaran hutan dan lahan ini menurut Agus, petani jadi korban tuduhan pelaku yang membakar hutan tersebut.

“Masyarakat petani atau yang berladang itu lagi-lagi menjadi tertuduh, seakan-akan mereka adalah pelaku utama dalam pembakaran hutan ini,” katanya.

Walaupun sudah menjadi tradisi para petani dan masyarakat yang berladang melakukan pembakaran lahan itu tidak menjadi faktor utama adanya kebakaran lahan yang terjadi pada tahun 2012 dan 2015 lalu.

“Karena sejak dulu mereka juga sudah melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar, tapikan itu tidak separah yang terjadi pada tahun 2012 dan 2015, karena hutan yang lain masih baik dan utuh, juga pembukaan lahan yang dilakukan itu terbatas hanya memenuhi kebutuhan hidup mereka,” jelasnya. (*)

Potensi Terjadinya Karhutla, Direktur Teraju Indonesia Beberkan Solusi Pencegahan

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved