Khawatir Cemari Lingkungan, Warga di Kelurahan Pal V Tolak Pembangunan Pabrik Pengolahan Sampah

Ia menjelaskan dari dinas terkait belum ada jaminan kepada masyarakat tentang keberadaan biodigester tersebut tidak menimbulkan bahaya

Khawatir Cemari Lingkungan, Warga di Kelurahan Pal V Tolak Pembangunan Pabrik Pengolahan Sampah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/HAMDAN DARSANI
Warga tolak pembangunan pabrik sampah di Sungai Kakap 

PONTIANAK - Ketua RT 5 Muslimin menegaskan penolakan pembangunan Pabrik Pengolahan Sampah atau Biodigester bukan bermaksud menolak pembangunan yang dilakukan oleh Pemkot.

Akan tetapi sebagai warga yang berada dekat areal pabrik pengolahan sampah tersebut merasa khawatir jika pabrik tersebut ketika telah beroperasi menimbulkan dampak berbahaya bagi lingkungan sekitar.

"Masyarakat tidak menolak apa yang dibangun pemerintah selama itu mendatangkan manfaat. Soal penolakan ini kita lakukan karena ada keraguan dari masyarakat tentang dampak yang ditimbulkan dari biodigester itu," ujarnya Rabu (13/11/2019)

Ia menjelaskan dari dinas terkait belum ada jaminan kepada masyarakat tentang keberadaan biodigester tersebut tidak menimbulkan bahaya apapun terhadap lingkungan.

Bentuk Pengabdian kepada Masyarakat Lewat Edukasi Pengurangan Sampah Anorganik

Warga Tolak Pembangunan Biodigester di Kelurahan Pal V, DLH Terus Lakukan Pendekatan Persuasif

Pemkot Pontianak Menuju Pengolahan Sampah Bernilai Ekonomis, Bukan Sekedar Pengelolaan

"Dari beberapa kali pertemuan yang kita lakukan tidak ada titik temu antara warga dengan dinas lingkungan hidup," ujarnya.

Ia menambahkan secara internal bersama dengan warga lainya, pihaknya telah membahas tentang kompensasi yang akan diajukan kepada pemerintah melalui proses musyawarah.

"Kita bukan menuntut pemerintah untuk tidak membangun itu, silahkan bangunan tersebut berjalan akan tetapi kedepanya jika ada hal-hal yang membahayakan masyarakat sepeti polusi atau apelah itu, sehingga pemerintah harus memikirkan itu kedepanya nanti," ujarnya.

Ia memaparkan di areal lokasi pembangunan tersebut juga tidak begitu jauh dari pemukiman. Ketika proses pengerjaan fondasi berlangsung getaran dari benturan tiang beton fondasi ke tanah terasa di rumah warga.

"Ndak sampai seratus meter, kurang lebih 75 meterlah. Bahkan kalau menancapkan tiang beton itu rumah sekitar terasa bergetar," ujarnya.

Muslimin menambahkan akan ada pertemuan lanjutan yang akan dilakukan antara warga dengan pemerintah kota Pontianak berkaitan dengan masalah itu. 

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved