Warga Tolak Pembangunan Biodigester di Kelurahan Pal V, DLH Terus Lakukan Pendekatan Persuasif

Hal tersebutlah setelah adanya penolakan dari dari Warga Kelurahan Pal V dan meminta pembangunan dihentikan.

Warga Tolak Pembangunan Biodigester di Kelurahan Pal V, DLH Terus Lakukan Pendekatan Persuasif
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/HAMDAN DARSANI
Warga tolak pembangunan pabrik sampah di Pontianak Barat 

PONTIANAK - Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Tinorma Butarbutar mengaku saat ini proses pengerjaan pusat daur ulang sampah atau Biodigester di Jalan Nipah Kuning Dalam, Pontianak Barat terhenti sementara.

Hal tersebutlah setelah adanya penolakan dari dari Warga Kelurahan Pal V dan meminta pembangunan dihentikan.

Tinorma menjelaskan saat ini pihaknya terus melakukan pendekatan persuasif dan melakukan negosiasi kepada masyarakat agar menerima proses pembangunan biodigester dapat dilanjutkan.

"Saat ini kita terus melakukan pendekatan persuasif dan negosiasi kepada masyarakat tersebut agar bersedia menerima melanjutkan," ujarnya.

Kaloka POM Sanggau Imbau Tak Gunakan Kantong Plastik Kresek Daur Ulang Sebagai Wadah Makanan

Bentuk Pengabdian kepada Masyarakat Lewat Edukasi Pengurangan Sampah Anorganik

Rosalina Ajak Kurangi Sampah Plastik, Khawatir Dimakan Ikan-ikan Kecil

Ia menjelaskan pihaknya juga telah beberapa kali melakukan sosialisasi dan audiensi kepada masyarakat bahwa dampak lingkungan terhadap pembangunan biodigester akan diminimalisir.

Dirinya menerangkan pembangunan Biodigester tersebut akan memberikan kontribusi terhadap penguranyan volume sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

"Biodigester tersebut merupakan program dari Kementerian untuk pemerintah kota Pontianak, rencananya Biodigester yang akan dibangun dapat mengelola sekitar 3 ton sampah organik yang sudah terpilah," ujarnya.

Ia menjelaskan secara umum prinsip kerja dari biodigester melakukan pencacahan terhadap sampah organik kemudian dilakukan frementasi sehingga di produksi menjadi kompos dan gas metana. Selanjut produksi gas tersebut akan dialirkan ke rumah tangga sekitar.

"Itu bisa menjadi gas yang bisa didistribusikan ke masyarakat untuk digunakan sehari sebagai pengganti dari penggunaan gas Elpiji," ujarnya.

Jika terealisasi, dengan kapasitas 3 ton sampah organik yang sudah terpilah sedikitnya 6, 7 meter kubik gas perhari dapat diproduksinya.

"Bentuk bangunan pabrik yang seperti quba dan tertutup akan memperkecil proses bau keluar dan mencemari udara di sekitar. Semua telah kita analisis dampak lingkungannya," ujarnya.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Hamdan Darsani
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved