Berita Viral

RAMAI Indonesia Alami Heatwave Terdampak Suhu Panas Awal Mei 2024, Simak Penjelasan BMKG

Sedang ramai dibahas Indonesia alami heatwave dampak dari suhu gelombang panas yang menghantam sejak awal Mei 2024.

|
Editor: Rizky Zulham
Dok. Net
RAMAI Indonesia Alami Heatwave Terdampak Suhu Panas Awal Mei 2024, Simak Penjelasan BMKG. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sedang ramai dibahas Indonesia alami heatwave dampak dari suhu gelombang panas yang menghantam sejak awal Mei 2024.

Wilayah Indonesia dilanda suhu panas yang menyebabkan cuaca terik saat siang hari.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan, suhu panas di Indonesia disebabkan oleh posisi semu matahari yang berada dekat sekitar Khatulistiwa.

“Suhu panas itu biasanya dia (suhu panas) seiring pergerakan sinar Matahari dari ekuator ke belahan Bumi utara. Nanti balik lagi ke ekuator lagi dan belahan Bumi selatan,” kata Guswanto kepada Kompas.com, Kamis 2 Mei 2024.

Menurut Guswanto, suhu panas yang terjadi masih akan berlangsung hingga Agustus-September.

Kondisi tersebut menurutnya lumrah terjdi di Indonesia.

Kalbar Mulai Masuk Cuaca Panas, 10 Kabupaten/Kota Ini Berpotensi Karhutla

Meski cuaca Indonesia terasa begitu terik pada awal Mei 2024, Guwanto menyebutkan, fenomena ini bukanlah heatwave atau gelombang panas seperti yang terjadi di Thailand dan Filipina.

Lantas, apa perbedaan suhu panas dengan heatwave?

Perbedaan suhu panas dan heatwave

Guswanto menjelaskan, suhu panas yang terjadi di Indonesia berbeda dengan heatwave.

Hal itu karena fenomena ini hanya dipicu oleh faktor pemanasan permukaan sebagai dampak dari siklus gerak semu Matahari yang dapat terjadi secara berulang setiap tahun.

Sementara gelombang panas atau heatwave terjadi ketika terbentuk pusat tekanan tinggi di atmosfer atas (lebih dari tiga kilometer).

Terbentuknya pusat tekanan tinggi menyebabkan udara panas terdiam di titik itu dalam waktu lama, harian, hingga mingguan.

“Udara panas bertekanan tinggi ini pun kemudian turun, memanaskan udara di permukaan secara adiabatik. Kejadian ini jamak dikontrol oleh pola arus jet (jetstream) dan gelombang Rossby,” ujar Guswanto.

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menekan udara permukaan (subsidensi).

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved