Casis Bintara Meninggal

Dokter Forensik Sebut Belum Dapat Identifikasi Jenis Zat Berbahaya Penyebab Casis Bintara Meninggal

"Fakta ada masuk zat berbahaya dari tubuh melalui saluran pencernaan. Karena saya tidak tahu zat berbahaya apakah ini. Untuk jenis zat berbahaya apa b

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/AGUS PUJIANTO
Natalia Widjaya, Dokter Spesialis Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo di Sintang berbincang dengan keluarga almarhum Sudaryanto, Casis Bintara Polri asal Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan yang ditemukan meninggal dunia di lanting pada September tahun lalu. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Meski penyebab meninggalnya Sudaryanto, Casis Bintara Polri asal Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat sudah diketahui, namun jenis zat berbahaya yang menyebabkan kematian belum terindentifikssi oleh tim Forensik Mabes Polri.

Sebagaimana diketahui, penyebab kematian Sudaryanto disimpulkan akibat masuknya zat berbahaya dari luar tubuh.

Akibat zat berbahaya dari luar yang masuk ke tubuh melalui saluran cerna, menyebabkan erosi dan pendarahan lambung, pembengkakan pada otak dan organ dalam sehingga menyebabkan mati lemas.

"Fakta ada masuk zat berbahaya dari tubuh melalui saluran pencernaan. Karena saya tidak tahu zat berbahaya apakah ini. Untuk jenis zat berbahaya apa belum terindentifikasi," kata Natalia Widjaya, Dokter Spesialis Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo di Sintang, Selasa 16 Januari 2024.

Menurut Natalia, zat yang masuk dalam tubuh Casis Bintara Polri ini sangat berbahaya karena mengakibatkan korban meninggal dunia.

BREAKING NEWS - Ungkap Penyebab Kematian Casis Bintara di Sintang, Polisi Sebut Ada Zat Berbahaya

"Hasil pemeriksaan kita temukan pendarahan pada lambung, pencernaan, menyebar bahkan ada yang pecah di lambung dan otak. Otak Bengkak, pembuluh darah, jantung, hati. Semua bengkak. Makanya ini zat berhahaya," jelasnya.

Pihak forensik sudah berusaha maksimal untuk mengungkap sebab kematian Sudaryanto. Pemeriksaan sampel autopsi tidak hanya di Laboratorium Forensik Mabes Polri, bahkan hingga ke Makasar.

Hanya saja, untuk perlu waktu dan sampel yang cukup untuk mengidentifikasi jenis zat berbahaya yang ada dalam tubuh Sudaryanto.

"Soal Zat berhaya itu apa, kami kirim ke sampel ke laboratorium di makasar untuk mengetahui zat berbahaya apa. Di sini kesulitan kita berpacu dengan waktu karena untuk mencari jenis zat berbahaya itu tidak gampang. Ada zat berbahaya yang bisa ditemukan dalam hitungan jam. Ada yang dalam mematikan dan belum dapat terdeteksi oleh alat. Karena mereka juga tidak bisa menemukan. Makanya saya tidak bisa menyebut zat apa. Ini hasil maksimal," beber Natalia. (*)

Ikuti Terus Berita Lainnya di Sini

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved