Kapal Pelni Sering Kandas di Sungai Kapuas, Ini Penyebabnya

Kandasnya kapal penumpang milik PT Pelni tersebut terjadi hampir setiap tahun.

Pelni
Kapal Laut Milik Pelni. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dari tahun ke tahun muara Sungai Kapuas terus mengalami pendangkalan. Satu di antara dampaknya, kapal penumpang milik PT Pelni Persero kerap mengalami Kandas saat berada di alur Sungai Kapuas menuju Pelabuhan Dwikora Pontianak.

Kandasnya kapal penumpang milik PT Pelni tersebut terjadi hampir setiap tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Operasi PT Pelni (Persero) Pontianak, Mulyadi.

"Kapal kami hampir setiap tahun kandas, bahkan sejak tahun 1986. Kapal kami selalu terkendala saat masuk bila tidak pasang maksimal," ungkapnya, Senin 13 Maret 2023.

Untuk mengantisipasi Kandas, ia mengatakan Pelayaran di alur Sungai Kapuas harus selalu menyesuaikan air pasang.

"Jadwal PT Pelni selalu terganggu sebab harus menyesuaikan atau menunggu air pasang, karena draft kapal kami minimal 5 meter," ujarnya.

Alur Sungai Kapuas Dangkal, Kapal Pelni Sering Alami Kandas

Akibat hal itu, ia menyampaikan banyak kerugian yang dialami pihaknya secara langsung.

"Kerugian tidak hanya waktu, biaya kerugian cukup besar serta pelayanan kami terhadap masyarakat kurang maksimal, sebab kami tidak bisa OTP atau on time performance," tuturnya.

Ia berharap, pihak terkair dapat segera melakukan pengerukan Sungai Kapuas, khususnya pada alur pelayaran dan muara sungai kapuas.

Tak hanya di muara, ternyata di hulu pun Sungai Kapuas mengalami pendangkalan. Nakhoda kapal bandong, Hermansyah, mengatakan aktivitas perjalanan kapal bandong yang menyusuri Sungai Kapuas terganggu oleh kedangkalan di 3 Kabupaten Hulu Sungai Kapuas.

"Kedangkalannya di hulu sungai tepatnya Kabupaten Sekadau, Sintang, dan Kapuas Hulu," ungkap Hermansyah, Minggu 12 Maret 2023

Nakhoda yang sudah mengarungi Sungai Kapuas selama 22 tahun tersebut, menjelaskan kapal yang terbuat dari kayu dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 12 meter tersebut memerlukan 3,5 meter kedalaman air sungai supaya kapal dapat berjalan lancar.

"Kalau kondisi penuh 150 ton, bagian bawah kapal tenggelam 2,5 sampai 3 meter untuk amannya. Jadi 3,5 meter kedalaman air itu paling ideal," ucapnya.

Kondisi sungai yang dangkal membuat Hermansyah harus menunggu air pasang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.

"Ya kita hitung dulu kondisi airnya, tunggu air pasang dulusupaya bisa lewat. Bersyukur sekarang sudah ada handphone, jadi bisa telepon untuk tahu kondisi air," kata Herman.

Ia juga menjelaskan jarak Pontianak-Putussibau sejauh kira-kira 780 kilometer jika dilewati melalui jalan darat menggunakan bus, dapat ditempuh dalam waktu 11-12 jam. Namun jika menggunakan kapal bandong, ia memerlukan waktu hingga 7 hari di perjalanan untuk sampai ke Embaloh Hulu, Kapuas Hulu.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved