Kematian Ibu di Kalbar Masih Tinggi, Tahun 2019 Capai 113 Kasus
Angka ini makin meningkat dari Tahun 2018 yang hanya 86 kasus kematian ibu.
Penulis: Anggita Putri | Editor: Didit Widodo
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Anggita
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - TRIBUN - Selama Tahun 2019, angka kematian ibu (AKI) di Kalimantan Barat masih mengalami kenaikan cukup tajam. Sedangkan, angka kematian bayi (AKB) diproyeksikan jumlahnya tak sebanyak tahun lalu.
Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provisni Kalbar tahun lalu lalu jumlah AKI sebanyak 113 ibu meninggal. Angka ini makin meningkat dari Tahun 2018 yang hanya 86 kasus kematian ibu.
Data ini berdasarakan dari data kematian ibu hamil , bersalin, dan nifas dari tiap kabupaten di Kalbar, sementara Kabupaten Sekadau belum memberikan data.
"Tapi yang sudah masuk tahun 2019 ada 113 kasus. Kalau dikonversi sama dengan 127 per 100.000 kelahiran hidup ," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harrison, Rabu (15/1/2020).
Namun angka tersebut masih di bawah angka nasional dengan target 306 per 100. 000 kelahiran hidup. Harrison melihat ada beberapa kabupaten tidak melaporkan kasus kematian ibu dikarenakan bidan dalam wilayah kerjanya yang jauh tak melaporkan kasus kematian kepada dinas kesehatan ke kabupaten atau kota.
"Alasannya karena nanti diaudit mereka takut dimarah. Saya tekankan pada dinas kabupaten kota dalam mengaudit setiap kematian ibu kita bukan mencari siapa yang salah tapi sebenarnya dimana letak sistem yang masih belum benar. Sehingga menyebabkan kematian ibu untuk diperbaiki sistemnya. Bukan justru mencari tahu siapa yang salah," jelasnya.
• Riset Bappenas dan Bank Dunia, Kota Pontianak Butuh Banyak Turap Atasi Banjir
• BKSDA Kalbar Nilai Satwa Dilindungi yang Diamankan KAL Lemukutan Berasal dari Indonesia Timur
Ia mengatakan kalau dari jumlah kematian ibu di Ketapang ada 17 kasus. Tapi kalau di konversi paling tinggi adalah Kayong Utara ada 6 kasus tapi angkanya mencapai 244 per 100 ribu kelahiran hidup. "Kalau dibandingkan jumlah kelahiran hidup sebenarnya kayong utara paling tinggi angka kematian ibunya," ujarnya.
Ia menjelaskan kenapa Kayong Utara lebih tinggi angka kematian ibu dari pada Ketapang yang mencapai 17 Kasus. Karena di Ketapang ibu meninggalnya 17 tapi ibu hamil dan jumlah penduduknya banyak.
Sedangkan Kayong Utara ada enam tapi ibu hamilnya sedikit. Kalau dari segi angka dihitung dari kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup. Kayong Utara paling tinggi di Kalbar, kalau dari kasus Ketapang yang paling banyak.
Harrison mengatakan adapun penyebab kematian ibu biasanya karena eklamsi dan pendarahan. Eklamsi yakni keracunan saat kehamilan yaitu akibat flasenta justru meracuni ibunya . Sehingga menyebabkan hipertensi dan kejang.
"Tapi yang pertama adalah pendarahan karena deteksi dini terhadap faktor resiko tinggi ibu tidak terdeteksi sejak awal. Kedua pada saat kita rujuk terlambat. Ketiga pelayanan di fasilitias kesehatan dan menyangkut kesediaan darah, kesiapan tenaga kesehatan," jelasnya.
Namun ia mengatakan angka kematian ibu masih dibawah target nasional dan masih lebih baik dari nasional.
"Adapun hal yang harus kita lakukan seperti memberikan sosialisasi pada ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur ," ujarnya.
Jadi setiap ibu hamil melalui Puskesmas memeriksakan kehamilan secara teraktur agar terdeteksi secara dini faktor resiko yang akan memperingaruhi proses persalinan.