Solar Langka, Gubernur Sutarmidji Sebut Disparitas Harga, Kuota Subsidi Habis Hingga Aksi Spekulan

Akar persoalannya adalah selisih harga yang jauh dan Midji menegaskan kalau pemerintah pusat tidak tanggap melihat selama itu persoalan akan terjadi.

Solar Langka, Gubernur Sutarmidji Sebut Disparitas Harga, Kuota Subsidi Habis Hingga Aksi Spekulan
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Sekitar 400an sopir truk dari berbagai daerah menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalbar, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (16/9/2019). Aksi unjuk rasa ini sebagai bentuk kekecewaan sopir truk yang kesulitan mendapatkan solar di sejumlah SPBU. 

Solar Langka, Gubernur Sutarmidji Sebut Disparitas Harga, Kuota Subsidi Habis Hingga Permainan Spekulan

PONTIANAK - Ratusan supir truck melakukan aksi demonstrasi mengeluhkan kesulitan mendapatkan  Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi atau solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Menanggapi adanya aksi demonstrasi dari para supir truk, Gubernur Kalbar, Sutarmidji memberikan komentar bahwa langkanya BBM tidak terlepas dari disparitas harga yang terjadi antara BBM subsidi dan non subsidi.

Menurutnya, pemerintah pusat harusnya membedakan harga BBM subsidi dan non subsidi kisaran Rp1000 rupiah.

Jangan sampai disparitas terlalu jauh sehinga memberikan kesempatan spekulan untuk bermain. 

Baca: BEM Poltesa Desak Pertamina Atasi Kelangkaan Solar di Sambas

Baca: Sopir Angkutan Keluhkan Kelangkaan Solar di Sambas

"Harusnya harga BBM subsidi dan non subsidi cukup Rp1.000 rupiah perliter, maka tidak akan terjadi masalah seperti saat ini. Pasalnya sekarang dengan selisih yang cukup jauh kisaran Rp4 ribu untuk solar maka akan memunculkan spekulan yang memanfaatkan selisih harga yang sangat jauh," ucap Midji saat diwawancarai, Senin (16/9/2019).

Akar persoalannya adalah selisih harga yang jauh dan Midji menegaskan kalau pemerintah pusat tidak tanggap melihat selama itu persoalan akan terjadi.

Ia menegaskan spekulan memanfaatkan selisih harga dengan mengantre dan menjula pada industri. 

Baca: FOTO: 400an Supir Truk dari Berbagai Daerah Unjuk Rasa ke Kantor Gubernur Kalbar

Baca: BREAKING NEWS - Ratusan Supir Dump Truck Geruduk Kantor Gubernur

"Mereka spekulan mengantre dan dijual ke industri untung Rp3-4 ribu, cobe kalau selisih Rp1000 rupiah tidak akan mau orang mengantre," ucap Midji.

Selain itu, kelangkaan yang terjadi karena kuota yang ada pada Pertamina hampir habis, apalagi sudah memasuki penghujung tahun.

"Inikan akhir tahun, pasti kuota subsidi mau habis maka terjadilah persoalan ini," pungkasnya. 

Update berita pilihantribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak 

Penulis: Syahroni
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved