Terkait Karhutla, Ketua DAD Sanggau Harap Tak Salahkan Masyarakat

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau Yohanes Ontot berharap agar aparat tidak menyalahkan masyarakat terkait Kebakaran Hutan dan Lahan

Terkait Karhutla, Ketua DAD Sanggau Harap Tak Salahkan Masyarakat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/HENDRI CHORNELIUS
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot 

Terkait Karhutla, Ketua DAD Sanggau Harap Tak Salahkan Masyarakat

SANGGAU - Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau Yohanes Ontot berharap agar aparat tidak menyalahkan masyarakat terkait Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di wilayah Kalimantan Barat.

"Karena bercocok tanam dengan cara yang dilakukan masyarakat seperti saat ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka, dan sudah menjadi kearifan lokal yang diakui, "katanya, Rabu (14/8/2019).

Tidak bisa juga, lanjutnya, kita menyalahkan aparat penegak hukum dalam hal ini, dan tidak bisa juga kita menyalahkan masyarakat petani. "Kita harus mampu melihat persoalan ini secara jernih, dampak dari pembakaran lahan ini yang dilakukan masyarakat sampai hari ini seperti apa. Apakah bisa menyebabkan kabut asap atau udara tidak segar,"tegasnya.

Ontot menegaskan, Bicara soal aturan yang ada masih mempertimbangkan kearifan lokal yang membatasi maksimal dua hektare untuk membuka lahan dengan cara membakar.

Baca: 185 Narapidana Rutan Sanggau Bakal Terima Remisi 17 Agustus, Tiga Diantaranya Langsung Bebas

Baca: Menlu AS Michael R Pompeo Sampikan Salam Hangat untuk Umat Muslim yang Merayakan Idul Adha

Baca: US Coast Guard dan Bakamla Gelar Latihan Bersama di Batam

"Tapi kalau di kampung itukan tidak ada yang sebesar itu. Kalau untuk nanam padi, dua hektar itu dah luar biasa luasnya, kalau dihitung-hitung satu hektar saja bisa untuk dua tahun apalagi dua hektare,"jelasnya.

Untuk itulah, Ontot mengajak masyarakat untuk berkoordinasi dengan aparat desa dan aparat keamanan setempat jika ingin membuka lahan dengan cara membakar.

"Masyarakat harus ikut mekanismenya, pertama harus lapor dengan kepala desa, Kedua, buatkan skat api sehingga tidak menjalar kemana-mana. Dan ketiga dia harus gotong royong kalau membakar,"tuturnya.

Jika ada masyarakat yang sengaja melakukan pembakaran dengan maksud mengganggu keamanan dan kenyamanan, Ontot mempersilakan untuk ditndak tegas.

"Kalau dia sengaja lempar puntung rokok sembarangan yang menyebabkan lahan terbakar, itulah yang membuat nama masyarakat adat tidak bagus. Masyarakat adat ini kan bisa dayak, bisa melayu, bisa china dan lain sebagainya. Masyarakat juga saya minta kalau ada yang sengaja membakar, tangkap dia dan laporkan,"pungkasnya.

Penulis: Hendri Chornelius
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved