TRIBUN WIKI

Sosok Gusti Afandi Ranie Jadi Sang Mahaputra Indonesia

Penulis Syafaruddin Usman MHD, yang juga historian researcher, writer sekaligus journalist di Pontianak membeberkan terkait Gusti Afandi Ranie

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Gusti Afandi Ranie 

Tak bergeming dengan ancaman itu, sebaliknya Gusti Afandi lantang menantang, “tunggu apalagi, tembaklah ayo tembakkan senapanmu” tantangnya.
Begitu geramnya prajurit muda itu akhirnya memerintahkan untuk memborgol tangan Gusti Afandi dan mengirimnya ke penjara Sungai Jawi Pontianak.

Maka hentilah pertempuran Landak terutama di Ngabang sejak tertangkapnya Gusti Afandi bersama Gusti Abdulhamid Aun, Gusti Lagum dan kaum republikein serta pemuda militan lainnya.
Di penjara Sungai Jawi Pontianak, Gusti Afandi pun meringkuk. Satu hari Gusti Afandi yang tak gentar dengan nyawa sebagai taruhan untuk membela republik ini, didatangi seorang asisten demang atas perintah residen di Pontianak.

Kedatangan “kaki tangan” kolonial itu tak lain untuk membujuk sang raja agar menyatakan keberpihakannya kepada rezim kolonial Belanda di West Borneo.
“Aku ingatkan kepada kamu, seperti juga aku ini, kamu adalah orang Indonesia maka Indonesialah yang patut kamu bela hingga matimu, sangat tak manusiawi untuk menyandang sebuah jabatan tapi berkhianat pada nusa dan bangsa”, hardik Gusti Afandi dari balik jeruji besi penjara Sungai Jawi Pontianak kepada sang asisten demang yang tak lain adalah rekan sejawatnya dulu di Ngabang.

Dengan wajah sumringah dan geram putra Indonesia yang propenjajah itu pun berlalu meninggalkan Gusti Afandi.
“Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah, merdeka atau mati, Republik Indonesia harga mati”, begitu ketegasan sikap Sang Raja Gusti Afandi yang mempersembahkan tahta kuasanya untuk Republik Indonesia.

Maka benar, bukanlah suatu yang jatuh dari langit manakala predikat Mahaputra disematkan pada dirinya oleh Pemerintah Republik Indonesia atas perjuangan, pengorbanan, semangat dan pengabdian kepada Ibu Pertiwi oleh Haji Gusti Muhammad Afandi Ranie Pangeran Mangkubumi Setia Negara Landak.
“Tetap dan teruslah berjuang, merdeka!!!” Begitu ujarnya berpuluh tahun kemudian selepas masa Revolusi Fisik 1945 di Kalimantan Barat. (*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved