TRIBUN WIKI
Sosok Gusti Afandi Ranie Jadi Sang Mahaputra Indonesia
Penulis Syafaruddin Usman MHD, yang juga historian researcher, writer sekaligus journalist di Pontianak membeberkan terkait Gusti Afandi Ranie
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Madrosid
Tak urung, controleur AB Faber yang memimpin Belanda di Landak ditolaknya ketika sang controleur yang berpangkat gezageber itu ingin bertemu.
Baca: Kabar Terbaru Gadis Pontianak Korban Kawin Kontrak Pria Tiongkok Setelah Sempat Mendekam di Penjara
Baca: Jadi Bulan-bulanan, Pria Terduga Pencuri Diamankan Warga
“Tak ada yang perlu dibicarakan. Landak bagian dari Indonesia, Belanda bukan tuan kami dan kami bukan lagi jajahan. Kemerdekaan bangsa kami patut kami pertahankan”, begitu lontarannya seraya mengusir sang controleur saat mendatangi dikediamannya di Kampung Raja Ngabang.
Begitulah suasana penuh heroik 73 tahun silam. Zaman penuh asap mesiu itu tak lepas merundung Ngabang.
Sejak 9 Oktober 1946 pukul 00 dinihari, Gusti Afandi memimpin grilya dan pertempuran di Landak. Pilihan hidup atau mati untuk Republik adalah motivasi yang menggerakkan hati nuraninya untuk terjun berjuang.
Bak harimau ganas, lelaki santun dan sejatinya dikenal pendiam itu “mengamuk” dibelantara Landak negeri yang dipimpinnya.
Kepada Gusti Abdulhamid Aun, Gusti Mohammad Said, Ya’ Nasri Osman, Bardan Nadi, Mane Pak Kasih, Bunyamin H Usman, Hamdan Budjang, Kimas Akil dan Merseb A Rahman serta lainnya, diinstruksikan Gusti Afandi untuk terus bertempur hingga titis darah penghabisan.
Ngabang negeri yang tak pernah henti dari pemberontakan menentang kolonial Belanda. Gusti Afandi sangat menyadari itu, sejak leluhurnya Ratu Mas Adi hingga kakek buyutnya Haji Gusti Kandut Mohamad Tabri Pangeran Nata Wirakesuma sampai ayahnya Gusti Abdurani Pangeran Natakusuma yang memimpin perlawanan rakyat Landak, menjadikan Gusti Afandi kian mantap untuk melanjutkan perjuangan bersenjata di kewedanaan Landak.
Pengalaman mengikuti sang ayah, Gusti Abdurani Pangeran Natakusuma, di tanah pengasingan hingga mangkat di Bengkulu, semakin membulatkan semangat Gusti Afandi untuk kian menggelorakan semangat anti kolonial.
Perjuangan rakyat Landak dibawah pimpinan Gusti Afandi, di mana Gusti Abdulhamid Aun, Gusti Mustafa Sotol, Gusti Tamdjid, Gusti Saleh Aliuddin, Gusti Lagum Amin, Ya’ A Rahim Anom dan kerabat lain yang menggerakkan, tercatat sebagai perlawanan rakyat Indonesia di Kalimantan Barat periode 1945–1949 sebagai perjuangan revolusi fisik dengan skala besar.
Besar dalam tindakan heroik dan besar pula korban jiwa yang timbul akibatnya. Bardan Nadi Sutrisno bersama sang putri jelitanya Paini Tresnowati yang saat itu berusia sekitar 5 tahun harus tumbang ke tanah diterjang peluru militer Belanda. Bahkan Bardan adalah putra pertiwi pertama yang diekskusi mati di Indonesia pada 17 April 1947.
Begitupun nasib nahas menimpa Mane Pak Kasih, Bunyamin H Usman, A Kasim H Usman, A Rani mereka diberondong tembakan gencar hingga erangan suara lirih yang paling akhir sembari mengucapkan kata “teruslah berjuang”.
Sementara Ya’ Nasri Osman alias Ya’ Dedeh menemui ajal dilarung ke laut lepas oleh kaki tangan NICA Belanda di teluk Jakarta saat pemimpin penyerbuan tangsi militer Ngabang ini saat dibawa untuk berobat ke Jakarta setelah mengalami sakit parah akibat siksaan tak berbatas selama meringkuk dalam penjara Belanda di Pontianak. Demikian pula Gusti Mohammad Said Ranie yang adalah adik dari Gusti Afandi sendiri.
Said pun menemui ajal akibat tekanan penjajah Belanda yang mengintrogasinya bertubi-tubi.
Alhasil, dalam perang dengan senjata yang tak berimbang antara rakyat Landak dengan militer Belanda Oktober hingga Nopember 1946, dan juga akibat kelicikan Belanda menebar spionasenya, akhirnya Gusti Afandi tertangkap.
Wibawa yang dimilikinya menyebabkan militer Belanda segan untuk meringkusnya, tapi laksana singa yang memgamuk, Gusti Afandi terus menentang kolonial Belanda.
Geram dengan keberingasan sang raja Landak ini, Sersan Nyenhuijs komandan tempur militer Belanda di Ngabang hampir menembakkan senapan mesinnya ke tubuh Gusti Afandi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/gusti-afandi-ranie.jpg)