TRIBUN WIKI

Sosok Gusti Afandi Ranie Jadi Sang Mahaputra Indonesia

Penulis Syafaruddin Usman MHD, yang juga historian researcher, writer sekaligus journalist di Pontianak membeberkan terkait Gusti Afandi Ranie

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Gusti Afandi Ranie 

Sosok Gusti Afandi Ranie Jadi Sang Mahaputra Indonesia

PONTIANAK - Penulis Syafaruddin Usman MHD, yang juga historian researcher, writer sekaligus journalist di Pontianak membeberkan terkait Gusti Afandi Ranie yang disebutnya sebagai Sang Mahaputra Indonesia.

“Tahta dan kuasa bukan segalanya. Membela Republik (Indonesia) itu utama”, begitu ketegasan sikap lelaki paruh baya yang kesehariannya penuh wibawa santun bersahaja ini.

Sikap tegas ini dikatakannya dihadapan para sepuh, orang sebaya dan generasi muda darinya dibawah temaram malam dengan penerangan lampu seadanya.

Lelaki berperawakan sedang dan wajah kharismatis ini bukan sembarang orang.

Dia adalah raja, penguasa dan pemegang tahta yang duduk di singgasana. Adalah Gusti Mohammad Afandie Ranie. Ketika kata-kata bernas itu diucapkan, dia adalah Pangeran Mangkubumi Setia Negara Kerajaan Landak di Ngabang.

Kata-kata dari mulut sang raja adalah sabda penguasa yang bertahta dan tak terbantahkan. Dan apa yang diungkapkannya itu adalah itikad dan kehendak yang patut diikuti rakyatnya.

Dan sang raja penuh wibawa itu pun melanjutkan kalimatnya,

“Berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini ketegasan. Bukan pilihan. Tapi kewajiban. Indonesia milik kita, maka bela Indonesia hingga hembus napas terakhir”, paparnya dengan suara menggelegar.

Baca: Mahfud MD Tepis Kabar Server Pengolahan Data KPU di Singapura: Saya Melihat Tidak Ada Bule

Baca: Tim Medis Polres Mempawah Periksa Kesehatan Penyelenggara Pemilu di Sadaniang

Baca: Kabar Terbaru Gadis Pontianak Korban Kawin Kontrak Pria Tiongkok Setelah Sempat Mendekam di Penjara

Bak halilintar membelah bumi, titah sang raja tak seorang pun rakyat Landak menyanggahnya. Kesemua yang mengelilinginya pada larut malam itu semua berikrar mengikuti semua perintah sang raja penuh pesona ini.

Lalu lelaki gagah yang selalu merakyat ini pun mengunci semua ungkapannya, “Aku paling depan memimpin rakyat Landak, majulah berjuang dan berperang. Harus menang. Sekalipun kita mati, untuk Indonesia, kita rela. Dan tahtaku adalah untuk Indonesia”.

Kata-kata bernas bak ombak memecah karang di laut lepas itu diungkapkannya beberapa jam sebelum meletusnya Pemberontakan Rakyat Landak, memasuki 10 Oktober nun 73 silam di tahun 1946. Dini hari saat itu memulai hari Jumat.

Dan selepas itu, meletuslah pertempuran hebat rakyat Landak terutama di Ngabang ibukota atau pusat dari onderafdeling di West Borneo itu.

Sejatinya Gusti Afandi bisa saja bersenang-senang atau berdiam diri, kolonial Belanda yang berusaha kembali menjajah meski Indonesia telah merdeka, pun bisa pula mendekat padanya, namun pilihan Gusti Afandi adalah lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah.

Sang raja yang memastikan tahtanya untuk rakyat dan Indonesia itu tegas bersikap anti dan nonkooperatif terhadap Belanda.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved