Inilah Kisah Mantan TKW Kubu Raya yang Meraih Predikat Cumlaude di IAIN Pontianak

Samiyah bekerja di Yordania selama dua tahun sembilan bulan. Pada tahun 2011, ia lantas kembali berkumpul bersama kedua orangtuanya.

Inilah Kisah Mantan TKW Kubu Raya yang Meraih Predikat Cumlaude di IAIN Pontianak
IST
Samiyah berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 Ekonomi Islam, di Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak dengan masa studinya selama tiga tahun sembilan bulan dan 26 hari, serta meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,56.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kejarlah cita-citamu setinggi langit, mungkin itulah ungkapan yang cocok disematkan kepada Samiyah (26), mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 Ekonomi Islam, di Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Selasa (15/12/2015).

Putri pasangan Syukur (50) dan Samina (45) ini menyelesaikan masa studinya selama tiga tahun sembilan bulan dan 26 hari, dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,56.

Anak ketiga dari delapan bersaudara ini mengisahkan pengalamannya selama dua tahun menjadi TKW di Brunei Darussalam. Pada tahun 2005, di negeri jiran tersebut Samiyah bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan upah 200 Dollar Brunei.

Kedua majikannya merupakan askar, sehingga menurut Samiya kondisi ia selama bekerja di luar negeri tersebut terjamin keamanannya. Tak ada pengalaman menyedihkan yang diterimanya dari keluarga tentara tersebut.

"Saya bekerja di Brunei Darussalam selama dua tahun, di sana saya sebagai pembantu rumah tangga. Majikan saya keduanya tentara atau askar. Pengalaman yang saya alami selama bekerja di sana alhamdulillah baik-baik saja," ungkapnya.

Samiyah bekerja di Brunei hingga tahun 2007, ia lantas pulang ke kampung halamannya di Gang Selat Malaka, Jl Usaha Bersama Desa Sungai Rengas, Kubu Raya.

Selama dua bulan beristirahat di rumah, sambil mengikuti pelatihan terpadu, sebagai bekalnya untuk berangkat menjadi tenaga kerja di Yordania.

Memasuki awal tahun 2008, ia lantas nekat berangkat bekerja menuju Yordania. Oleh karena kedekatan dengan keluarga majikannya, Samiyah bahkan berkesempatan umroh ke tanah suci.

Selama bekerja di negeri orang, Samiyah menemui berbagai kendala. Satu di antaranya ia sulit beradaptasi, dalam hal bahasa dengan keluarga majikanya, baik di Brunei maupun di Yordania.

"Kalau di Brunei Darussalam, saya cuma bisa beberapa kosakata Bahasa Inggris, karena masyarakat di sana sehari-hari menggunakan bahasa Melayu yang diselingi Bahasa Inggris," jelasnya.

Halaman
123
Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved