Hardiknas

Logo Hardiknas 2026 Resmi Dirilis, Ini Makna dan Temanya

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merilis logo resmi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
LOGO HARDIKNAS -Ilustrasi logo resmi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) akan diperingati pada Sabtu, 2 Mei 2026 mendatang. 
Ringkasan Berita:
  • Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) akan diperingati setiap 2 Mei.
  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merilis logo resmi Hardiknas 2026 mencerminkan semangat pembaruan pendidikan Indonesia.
  • Logo tersebut mengandung filosofi penting, figur manusia berwarna biru yang melambangkan semangat dan partisipasi aktif, serta lengkungan elips yang menggambarkan gerak maju, perlindungan, dan kesinambungan pendidikan. 
  • Warna biru juga melambangkan kepercayaan, kecerdasan, dan masa depan cerah.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID -  Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) akan diperingati pada Sabtu, 2 Mei 2026 mendatang.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merilis logo resmi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Logo ini tidak hanya menjadi simbol peringatan tahunan, tetapi juga merepresentasikan semangat pembaruan dalam dunia pendidikan.

Melalui desainnya, logo Hardiknas 2026 menggambarkan komitmen pemerintah dalam mendorong tiga program prioritas utama, yaitu revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, serta peningkatan kesejahteraan guru.

Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan sistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berkualitas di masa depan.

2 Mei 2026 Diperingati Hari Apa? Ini Daftar Hari Besar Nasional dan Internasional

Filosofi Logo Hardiknas 2026

1. Figur manusia berwarna biru

Siluet manusia yang bergerak dinamis yang penuh semangat mencerminkan semesta yang siap berperan aktif dalam mendukung dan berkontribusi demi mewujudkan visi #PendidikanBermutuUntukSemua.

2. Lengkungan elips yang mengitari bagian bawah

Garis lengkung yang mengitari logo melambangkan gerak maju, pelindungan, dan kesinambungan.

Ini merepresentasikan revitalisasi satuan pendidikan melalui perbaikan sarana prasarana, penguatan ekosistem sekolah, serta pemerataan layanan pendidikan di seluruh Indones

3. Warna biru dominan

Warna biru melambangkan kepercayaan, kecerdasan, profesionalisme, dan masa depan cerah.

Sementara itu, tema peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 adalah "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua".

Anda bisa mendownload logo Hardiknas 2026 melalui laman berikut https://www.kemendikdasmen.go.id/pengumuman/15156-pedoman-logo-hari-pendidikan-nasional-2026.

Tentang Hari Pendidikan Nasional

Peringatan Hari Pendidikan Nasional dilakukan untuk mengingat kembali betapa pentingnya pendidikan dalam membangun sebuah bangsa.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional diperingati pertama kali pada 66 tahun silam untuk mengenang kembali perjuangan Ki Hajar Dewantara.

Penetapan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas tertuang dalam Keputusan Presiden No. 316/1959, sebagaimana dijelaskan oleh Suhartono Wiryopranoto, dkk. dalam buku Perjuangan Ki Hajar Dewantara: Dari Politik ke Pendidikan (2017).

Penetapan Hari Pendidikan Nasional itu dilakukan tak lama setelah meninggalnya tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, pada 26 April 1959 silam.

Sementara itu, tanggal peringatan Hardiknas diambil dari tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara sendiri pada 2 Mei 1889.

 Ki Hadjar Dewantara dibesarkan di lingkungan bangsawan Pakualaman. Meski begitu, dia hidup sederhana dan cenderung dekat dengan rakyat.

Sepak Terjang Ki Hajar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara yang sewaktu muda bernama Soewardi Soerjaningrat semula terlibat dalam aktivisme politik.

Soewardi turut mendirikan Indische Partij (IP) pada 1912 bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Melalui wadah itu, ia menyuarakan aspirasi kemerdekaan Indonesia.

Kritik Soewardi Soerjaningrat terhadap kolonialisme Belanda cukup keras. Hal ini terbukti melalui artikelnya berjudul "Als Ik Een Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda), sehingga menyebabkan dirinya diasingkan ke Belanda.

Pada 6 September 1919, Soewardi Soerjoningrat kembali ke tanah air. Perjuangan Soewardi pada kemerdekaan Indonesia lantas dicurahkan ke bidang pendidikan.

Sowardi mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1922. Ia kemudian juga mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara.

Melawan Hegemoni Pendidikan Kolonial

Taman Siswa dibentuk sebagai sekolah yang melawan hegemoni pendidikan kolonial.

Sekolah ini juga menjadi alternatif bagi para siswa bumiputra yang tak bisa mengenyam pendidikan Eropa.

Terdapat tiga prinsip yang dipegang oleh Taman Siswa, yakni Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan), Ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat), Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Eksistensi Taman Siswa dianggap mengancam pemerintah kolonial. Belanda pun mengeluarkan aturan "Ordonansi Sekolah Liar" yang membelenggu sekolah-sekolah nonpemerintah.

Akan tetapi, Ki Hadjar Dewantara mampu menghimpun dukungan dari berbagai kalangan untuk menentang ordonansi ini.

Pada masa kemerdekaan, Ki Hadjar Dewantara ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Pertama Indonesia periode 19 Agustus 1945-14 November 1945.

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved