Psikolog Verty Ungkap Trauma Jangka Panjang pada Korban Perdagangan Bayi
Terkait cara menyampaikan asal-usul anak, Verty menekankan pentingnya kejujuran yang dilakukan secara bertahap sesuai usia anak.
Penulis: Peggy Dania | Editor: Maudy Asri Gita Utami
Ringkasan Berita:
- Menurut Verty, ibu kandung dalam kasus perdagangan bayi berisiko mengalami trauma berat setelah melahirkan, mulai dari rasa bersalah, kehilangan, depresi hingga gangguan emosional.
- “Ibu kandung dalam kasus perdagangan bayi berisiko mengalami trauma berat seperti rasa bersalah, kehilangan, depresi, hingga gangguan emosional setelah melahirkan, sehingga pendampingan psikologis berbasis trauma sangat dibutuhkan sejak awal,” ujarnya saat diwawancarai tribunpontianak.co.id, Minggu 24 Mei 2026.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Psikolog Verty Sari Pusparini menyoroti dampak psikologis jangka panjang yang dapat dialami ibu kandung maupun anak korban dalam kasus dugaan perdagangan bayi yang menyeret terdakwa Febrina alias “Tante Singkawang”.
Menurut Verty, ibu kandung dalam kasus perdagangan bayi berisiko mengalami trauma berat setelah melahirkan, mulai dari rasa bersalah, kehilangan, depresi hingga gangguan emosional.
“Ibu kandung dalam kasus perdagangan bayi berisiko mengalami trauma berat seperti rasa bersalah, kehilangan, depresi, hingga gangguan emosional setelah melahirkan, sehingga pendampingan psikologis berbasis trauma sangat dibutuhkan sejak awal,” ujarnya saat diwawancarai tribunpontianak.co.id, Minggu 24 Mei 2026.
Selain ibu kandung, anak korban perdagangan juga membutuhkan lingkungan pengasuhan yang aman dan konsisten agar dapat membangun rasa percaya diri serta tidak tumbuh dengan perasaan ditolak atau tidak berharga.
Verty menerangkan, hilangnya kelekatan awal dengan ibu kandung dapat memengaruhi perkembangan emosional anak di masa depan.
“Hilangnya kelekatan awal dengan ibu kandung dapat memengaruhi rasa aman, kemampuan mengatur emosi, dan cara anak membangun hubungan dengan orang lain saat dewasa,” katanya.
• Kolaborasi Pemuda Katolik, HIPMI dan Komunitas Trabas Warnai Bakti Sosial di Pedalaman Sanggau
Ia juga menilai anak yang mengetahui dirinya pernah dijadikan komoditas berpotensi mengalami krisis identitas, rasa malu mendalam, sulit percaya pada orang lain, hingga gangguan emosional di masa depan.
Terkait cara menyampaikan asal-usul anak, Verty menekankan pentingnya kejujuran yang dilakukan secara bertahap sesuai usia anak.
“Asal-usul anak sebaiknya disampaikan secara jujur dan bertahap sesuai usia agar anak dapat memahami dirinya tanpa merasa hancur secara emosional,” terangnya.
Dari sisi psikologi, Verty menyebut tindakan menjual anak dapat dipengaruhi tekanan hidup berat, kematangan emosi yang belum baik, kemampuan coping yang rendah, hingga pola pikir yang telah menormalisasi tindakan tersebut.
Meski demikian, ia menilai tekanan ekonomi tidak otomatis menghilangkan naluri alami seorang ibu untuk melindungi anaknya.
Verty juga menyoroti adanya kondisi psikologis ketika seseorang membenarkan tindakan salah karena merasa hal tersebut merupakan jalan terbaik terutama saat berada dalam tekanan hidup, rasa putus asa, atau lingkungan yang tidak sehat.
Selain itu, ia menyebut depresi pascamelahirkan atau postpartum depression yang tidak tertangani juga dapat menjadi salah satu faktor risiko.
“Depresi pascamelahirkan yang tidak tertangani bisa menjadi salah satu faktor risiko, terutama pada ibu dengan kehamilan tidak diinginkan, minim dukungan keluarga, atau tekanan sosial dan ekonomi yang berat. Namun untuk kasus ini juga perlu mempertimbangkan faktor lainnya,” pungkasnya.
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
- Ikuti Instagram Tribun Pontianak IG TRIBUN
Psikolog Verty Sari Pusparini
Perdagangan Bayi Singkawang
kasus perdagangan bayi Singkawang
perdagangan bayi jaringan Jakarta Pontianak
perdagangan bayi lintas daerah
Perdagangan Bayi
Verty Sari Pusparini
| Kasus “Tante Singkawang” Disorot, Ketua HWCI Eka Nurhayati Minta Pelaku TPPO Dihukum Berat |
|
|---|
| Bayi Dijual Puluhan Juta, Herman Hofi Soroti Lemahnya Pengawasan Dokumen Kependudukan di Kalbar |
|
|---|
| Tangis Bayi dan Bisnis Gelap Adopsi, Tante Singkawang Diduga Jual 23 Bayi |
|
|---|
| Fakta-fakta Sindikat Perdagangan Bayi di Singkawang, Tante 'Febri' Pasang Tarif Rp45 Juta Per Anak |
|
|---|
| Psikolog Soroti Trauma Ibu dan Anak di Balik Kasus Perdagangan Bayi Tante Singkawang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Psikolog-Verty-Sari-Pusparini-menyoroti-dampak-psikologis-terhadap-ibu-kandung-dan-anak.jpg)