Tarif Impor Trump Bakal Berdampak ke Kalbar, Prof Eddy Suratman Ungkap Ada 2 Skenario

Prof Eddy Suratman, pengamat ekonomi dan juga akademisi dari Kalimantan Barat menilai kebijakan Trump juga akan berdampak ke Kalimantan Barat.

Penulis: Ferryanto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK/FILE
KEBIJAKAN TRUMP - Prof Eddy Suratman. Akademisi dari Kalimantan Barat ini menilai kebijakan Trump juga akan berdampak ke Kalimantan Barat. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Presiden Amerika Serikat Donald Trum mengumkan kepada seluruh dunia bahwa mereka telah menetapkan tarif Impor baru ke berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia.

Tarif baru yang ditetapkan Trum tersebut pun meningkat berkali lipat dari tarif sebelumnya.

Prof Eddy Suratman, pengamat ekonomi dan juga akademisi dari Kalimantan Barat menilai kebijakan Trump juga akan berdampak ke Kalimantan Barat.

Ketika kebijakan tarif tersebut diterapkan, maka Harga barang yang akan dikirim ke Amerika akan lebih mahal, lalu ketika harga naik, dan masyarakat amerika disana mengurangi pembelian barang dari Indoensia khususnya dari Kalimantan Barat, dengan demikian, secara langsung akan mengurangi volume ekspor  ke Amerika.

"Kalau volume ekspor mengalami penurunan, dampaknya cadangan devisa berkurang, tetapi dampaknya ke Kalbar paling nyata produksi kita pasti dikurangi, dampak berikutnya akan mengurangi bahan baku, tenaga kerja, dan ini bila terjadi masif maka akan mengganggu perekonomian kita, dan ini dampaknya akan luas,'' ungkapnya, minggu 6 april 2025.

Prof Eddy mengungkapkan Amerika bukanlah negara dengan tujuan ekspor terbesar dari Kalbar, produk dari Kalbar terbanyak ia katakan di eskpor ke India, Cina, dan  Australia, dengan total mencapai 80 persen.

"Ke Amerika tidak terlalu besar, tetapi ini mungkin tidak langsung ekspornya, dugaan saya ada pengusaha yang jual barangnya ke Jakarta dulu, atau ke daerah lain, misalnya Dumay, dari sana baru di kirim ke Amerika," ujarnya.

Walaupun demikian, ia menegaskan dampak langsung akan tetap dirasakan oleh Kalbar dari penerapan tarif baru Trump tersebut.

Karena ini merupakan kebijakan dari Amerika yang merupakan negara besar, ia nilai tidak ada yang bisa dilakukan oleh pengusaha secara langsung, dan yang harus bergerak dalam hal ini ialah Negara secara langsung.

"Ini G to G, atau Goverment to Goverment, pemerintah ke pemerintah, jadi menurut saya jalan keluar dari situasi ini hanya 2,'' ungkapnya.

Pertama, pemerintah Indonesia berkomunikasi dengan Pemerintah Amerika untuk mengetahui apa yang dibutuhkan dan dimau oleh Amerika, kemudian memberikan penawaran dengan kemudahan.

"Kita cari tau apa yang mereka mau dari kita, kita turunkan tarif barangnya, supaya mereka juga turunkan tarifnya, sehingga ada simbiosis mutualisme, dan itu cara yang paling baik, dan itu harus segera, itu mungkin akan mempermudah, dan itu adalah skenario paling diharapkan,'' terangnya.

Kedua, merupakan satu diantara langkah tegas, yakni dengan melawan Amerika, namun harus dilakukan dengan startegi yang benar.

''Tetapi melawan itu harus mengukur diri juga, kita dengan amerika ini kan hampir kalah dari berbagai hal, karena itu melawan harus pakai otak, caranya bekerja dengan pihak lain yang juga teraniaya dengan kebijakan ini,'' katannya.

Baca juga: Volume Sampah Lebaran di Pontianak Meningkat Dinas LH Kerahkan Armada Tambahan dan Alat Berat

Akibat kebijakan Trump, banyak negara di Asia, hingga Eropa yang merasakan dampaknya, oleh karena itu membangun kerja sama antar negara yang terdampak ini juga merupakan langkah yang baik.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved