Dinas Pertanian dan Perkebunan Sintang Usulkan 600 Hektare Oplah Pertanian 2025

"Kemudian Kementrian dan Polri itu jagung dan tanaman pekarangan. Lalu antara dirjen tanaman pangan holtikultura itu juga ada kerjasama berkaitan deng

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/AGUS PUJIANTO
BERI PENJELASAN - Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Martin Nandung. Ia mengusulkan 600-1000 hektare untuk optimalisasi lahan (Oplah) pertanian. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mengusulkan 600-1000 hektare untuk optimalisasi lahan (Oplah) pertanian.

Usulan ini, lebih banyak dari tahun 2024 yang hanya 571 hektare yang saat ini disebut sudah ditanami padi.

"Tahun lalu kita ada 571 hektare. Tahun ini kita mengusulkan 600 sampai 1000 hektare. Yang 571 hektare sudsh ditanam padi," kata Martin Nandung, Kadis Pertanian dan Perkebunan.

Lahan pertanian yang diusulkan tahun ini juga akan ditanami padi. Karena ini program perioritas pemerintah.

"Kemudian Kementrian dan Polri itu jagung dan tanaman pekarangan. Lalu antara dirjen tanaman pangan holtikultura itu juga ada kerjasama berkaitan dengan padi gogo di lahan sawit. Tapi sawit yang sudah proses replanting. Jadi sambil menunggu proses tanam sawit atau sebelum sawit menghasilkan itu akan ditanam padi gogo. Beberapa kabupaten sudah tapi karena kita sinang masih belum ada replanting," ungkap Martin Nandung.

Songsong 4 Kecamatan Baru, Berikut Kesiapaan Disdukcapil Sintang

Sejauh ini, masih belum terdata berapa banyak hasil produksi padi dari program oplah di tahun 2024.

"Hasil padi tanam perdana baru beberapa  tempat yang sudah panen. Februari baru terdata. Kisaran sekarang 4 sampai 6 ton per hektare. Kalau rata-rata kita masih kurang lebih 4 ton lah," ujar Martin.

Selama ini kata Martin, produksi pertanian padi masih untuk pemenuhan kebutuhan lokal, belum sampai dijual keluar Sintang.

"Sebenarnya dari segi produksi kita sudah swasembada untuk kebutuhan lokal. Cuman persoalannya masyarakat kita khususnya petani lahan kering atau berladang mereka tidak menjual hasil  tapi untuk kebutuhan keluarga. Bahkan mereka mampu menyimpan hingga setahun masih ada. Berbeda dengan petani sawah  kalau ada lebih untuk kebutuhan rumah tangga itu dijual," kata Martin. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved