Kota Pontianak Butuh Kawasan Baru: Pal 5, Kota Satelit hingga Konsep TOD Jadi Solusi
Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menyampaikan jika dibuka kawasan baru, ada beberapa kawasan yang menurutnya potensial
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wali Kota Pontianak Edi Kamtono menilai perlunya pengembangan kawasan-kawasan baru di wilayah Kota Pontianak. Kawasan-kawasan baru itu diharapkan mampu menunjang pengembangan kota yang kian padat.
Sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Kota Pontianak terus berkembang seiring bertambahnya jumlah penduduk yang sudah mencapai 673.400 jiwa pada 2022.
Setiap tahunnya pertambahan penduduk di Pontianak rerata 1,7 persen. Sehingga kota yang luasnya 118,4 meter persegi ini sekarang sudah terasa sempit.
Bahkan, kata Edi, hampir tidak ada lahan kosong dengan bentangan yang luas di wilayah Kota Pontianak, terkecuali di Pontianak Selatan dan Utara.
"Perlu adanya pengembangan kawasan-kawasan baru, sehingga kepadatan penduduk tidak menumpuk di satu kawasan," ujarnya kepada jemaah Salat Isya dan Tarawih Masjid Islamiyah, Jl Imam Bonjol pada rangkaian Safari Ramadan, Selasa 28 Maret 2023 malam.
• Soal Pengembangan Kawasan Baru Kota Pontianak, Pengamat Tata Kota Tawarkan Konsep TOD
Selain itu, lanjut Edi, dengan pertumbuhan penduduk yang kian pesat, tentu menimbulkan permasalahan-permasalahan perkotaan. Misalnya produksi sampah yang makin meningkat, limbah kian bertambah, kebutuhan air bersih juga meningkat dan permasalahan perkotaan.
"Tentunya ini menjadi PR Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak yang harus dituntaskan sehingga memberikan kenyamanan bagi warga maupun lingkungan," sebutnya.
Demikian pula dengan meningkatnya volume kendaraan bermotor yang melintasi jalan-jalan ibukota Provinsi Kalbar ini juga menjadi perhatian Pemkot Pontianak untuk diatasi.
Ia berharap nantinya apabila pembangunan Duplikasi Jembatan Kapuas I selesai dikerjakan dan sudah bisa difungsikan, kemacetan yang terjadi terutama di Pontianak Selatan dan Timur bisa teratasi.
"Kehadiran Duplikasi Jembatan Kapuas I menjadi salah satu solusi mengurai kemacetan antara kedua wilayah itu," kata Edi.
Tak lupa, Ia juga memaparkan sejumlah capaian diperoleh Pemkot Pontianak sepanjang tahun 2022. Antara lain, peningkatan IPM dari 79,93 (2021) ke 80,48 (2022), pertumbuhan ekonomi dari 4,6 (2021) jadi 4,98 (2022), penurunan angka kemiskinan dari 4,58 (2021) menjadi 4,46 (2022), dan tingkat pengangguran dari 12,38 (2021) jadi 9,92 (2022).
Kawasan Potensial
Terhadap pengembangan kawasan-kawasan baru di Kota Pontianak, Gubernur Kalbar, Sutarmidji menyampaikan jika dibuka kawasan baru, ada beberapa kawasan yang menurutnya potensial berkembang menjadi pusat bisnis di Kota Pontianak yang merupakan kota jasa.
“Kalau saya di Parit Demang, kawasan Purnama. Terus Pal 5, Pontianak Barat. Nah sebenarnya kalau mau di Prof M Yamin juga sudah bagus perkembangannya. Kemudian diarahkan lagi dari Ampera ke Pal 5, maka akan terbagi kegiatan ekonominya. Sehingga Pontianak tidak macet,” ujarnya saat ditemui di Gedung Garuda Pemprov Kalbar, Rabu 29 Maret 2023.
Sutarmidji mengatakan kawasan-kawasan ini, begitu permukimannya padat maka bisnis yang ada di situ wilayah tersebut juga akan berkembangan.
“Jadi arah Selatan itu Parit Demang, Perdana ujung. Dulu saya juga membuka Jalan Reformasi yang sekarang sudah berkembang. Tinggal teruskan saja belok sampai Parit Demang tembus ke Kota Baru,” ujar Midji.
Selain itu, dikatakannya Jalan Ampera juga dilebarkan dari arah Prof M Yamin dan untuk aktivitas perdagangan di kawasan tersebut juga sudah ramai. Maka dari itu, harga ruko di kawasan tersebut terbilang lebih mahal.
“Kemudian tinggal kembangkan lagi sepanjang Jl Ampera, di situkan sudah ada perguruan tinggi, IKIP PGRI Pontianak, pertokohan juga banyak. Di situ tinggal buat daya tarik. Kalau dulu saya letakkan kolam renang, Polsek juga dibangun di situ, dan IKIP PGRI Pontianak saya izinkan di sana,” pungkasnya.
• Kota Pontianak Makin Padat, Edi Kamtono: Perlu Ada Pengembangan Kawasan Baru
Kota Satelit
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Barat, Andreas Acui, menilai Kota Pontianak perlu mengembangkan diri sehingga layak untuk menjadi tempat hunian sebagaimana nama Ibu Kota Provinsi Kalbar disematkan padanya.
"Salah satu solusinya adalah mengembangkan Kota Satelit yang dirancang dengan menghadirkan semua aspek pendukung untuk dinamika kehidupan," ujar Acui.
Selain Wilayah Pontianak Timur dan Utara kata Acui, hampir semua perbatasan wilayah Kota Pontianak masih tersedia lahan luas untuk di kembangkan.
Menurut dia yang diperlukan adalah kebijakan pimpinan Kota Pontianak bersama kabupaten terdekat serta DPRD Kota Pontianak dan kabupaten bersangkutan.
“Tentunya untuk menghasilkan sebuah keputusan hukum untuk mengembangkan sebuah kota satelit yang lengkap dengan segala sarana dan prasarana di dalamnya termasuk entitas usaha untuk memajukan ekonomi dalam ekosistem Kota Satelit tersebut," ujarnya.
Jadi dalam kita satelit itu semua aspek kebutuhan hidup tersedia, sehingga pergerakan antar wilayah secara rutin oleh penduduk dapat diminimalisir.
Saat ini Kota Pontianak kata Acui jadi dilema karena fasilitas pendidikan, kesehatan, kantor pelayanan publik serta hiburan ada di pusat kota. Hal ini membuat setiap hari selalu terjadi kemacetan pada saat terjadi pergerakan penduduk saat pergi dan pulangnya.
Tokoh Masyarakat Kota Pontianak, Muhammad Fauzi, menilai pengembangan kawasan pemukiman baru di Kota Pontianak sebagai upaya pemerataan penduduk.
Perkembangan jumlah penduduk di Kota Pontianak yang sangat cepat, namun tidak diiringi dengan pemerataan pemukiman penduduk.
Fauzi berharap, Pemerintah Kota Pontianak dapat memiliki ide cerdas dalam rangka perkembangan Kota Pontianak. Oleh sebab itu ia menilai ini harus ada keseimbangan pemerataan pemukiman penduduk di Kota Pontianak.
Saat ini dinilainya, wilayah yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan berada di wilayah Pontianak Utara dan Timur. Namun, ia memberikan catatan, untuk perkembangan kota, pemerintah harus lebih dahulu memberikan infrastruktur penunjang untuk masyarakat.
• Gubernur Sutarmidji Sebut Beberapa Kawasan di Kota Pontianak yang Potensial untuk Dikembangkan
Pengamat Tawarkan Konsep TOD
Prof Pengamat Tata Kota Untan Pontianak, Dr Henny Herawati ST MT mengatakan dengan adanya pengembangan kawasan yang baru sebetulnya bisa didesain untuk pengembangan wilayah dengan konsep pengembangan TOD atau Transit Oriented Development, yaitu konsep pembangunan wilayah yang berfokus pada terintegrasinya pelayanan umum.
Hal lain dengan konsep TOD terlaksana, maka banyak infrastruktur yang bisa difungsikan lebih maksimal. Misalnya dalam pengadaan air bersih.
Jika misalnya pengembangan pemukimannya vertikal ke atas, setidaknya untuk infrastruktur jalan raya tidak crowded, karena volume lintas bisa dioptimalkan.
Konsep TOD seperti itu sehingga kemacetan lalu lintas bisa diatasi kemudian drainase dan lain-lain sebagainya itu bisa lebih tertata.
Tentunya, pembukaan kawasan baru itu harus diperhatikan supaya penyebaran wilayahnya itu lebih merata tidak pusat pada wilayah satu yang padat. Namun pengembangan kawasannya harus ditentukan terlebih dahulu dimana, karena harus diuji kelayakan.
Ikuti Terus Berita Terupdate Seputar Kota Pontianak Hari Ini Di sini
Update Harga Sembako di Kalimantan Barat Hari Ini Terbaru: Cabai Naik, Bawang dan Daging Turun |
![]() |
---|
Gubernur Kalbar Ria Norsan Imbau Massa Aksi Jaga Kondusifitas dan Sampaikan Aspirasi dengan Damai |
![]() |
---|
Situasi Terkini Aksi Damai di Sekitar Bundaran Digulis Untan Pontianak |
![]() |
---|
Unjuk Rasa Sempat Berlanjut di Bundaran Digulis Jumat Malam |
![]() |
---|
Aksi Damai Berlanjut ke Bundaran Digulis |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.