Pasca Banjir Tanggul Geobag Timbulkan Masalah Baru, Lumpur Tertahan Setinggi Belasan Centimeter

Tidak hanya di atas permukaan jalan, bahkan di pinggiran jalan, lumpur mencapai belasan centimeter yang tertahan tak bisa terbuang

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa/Syahroni
Warga kerja bakti membersihkan endapan lumpur pasca banjir di Kelurahan Ladang. Keberadaan kantung geotexstile berisi pasir yang dipasang di bantaran sungai melawi justru menyebabkan material lumpur yang mengendap pasca banjir tertahan tak bisa keluar ke sungai. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Tanggul pengendali air ( geobag-geotube ) yang dibuat oleh Kementrian PUPR untuk mengatasi banjir di Sintang, Kalimantan Barat, disebut menimbulkan masalah baru pasca banjir.

Keberadaan kantung geotexstile berisi pasir yang dipasang di bantaran sungai melawi justru menyebabkan material lumpur yang mengendap pasca banjir tertahan tak bisa keluar ke sungai.

"Geobag Pasca banjir menimbulkan masalah baru. Ini lumpur tertahan ndak turun ke sungai. Salah konsep dari awal. Saat banjir tidak berfungsi menahan air justru tenggelam, saat banjir surut jadi penahan lumpur sehingga jalan jadi kubangan lumpur," ujar Syahroni, warga Kelurahan Ladang, Kecamatan Sintang, Minggu 27 November 2022.

Endapan material lumpur cukup tinggi. Tidak hanya di atas permukaan jalan, bahkan di pinggiran jalan, lumpur mencapai belasan centimeter yang tertahan tak bisa terbuang ke sungai akibat adanya tanggul.

Baca juga: Banjir di Sintang Surut, Warga Panen Ikan Seluang

Kabar Gembira, Ruas Jalan Sintang - Simba Sudah Bisa Dilalui Kendaraan

Warga setempat gotong royong untuk membersihkan endapan lumpur pasca banjir menggunakan tiga mesin Robin. Namun, masih banyak lumpur yang tersisa sehingga berpotensi meluber ke jalan jika diguyur hujan karena badan jalan lebih rendah.

"Curah hujan masih tinggi dan lumpur bisa kembali menggenangi jalan. Kami harus kerja bakti berisikan nyiram, dan bulan ini sudah 2 kali. Hari ini kita 3 Robin turun bersihkan material lumpur, swadaya masyarakat lah. Yang penting arus lalu lintas bisa, kasihan ibu-ibu antar sekolah anak kalau licin banyak lumpur," jelas Roni.

Warga terpaksa membuat jalan pembuangan lumpur di tanggul supaya bisa dibuang ke sungai. Roni berharap, pemerintah tidak tinggal diam dengan kondisi ini. Jangan sampai, efek dari pembangunan justru merepotkan masyarakat.

"Kebetulan sudah sobek bagian situ, sehingga kita buat jalan air. Lumpur sudah tinggi dari badan jalan, lari ke jalan lagi kalau ndak dibuang ke sungai. Informasi terakhir ada program turab, mudah-mudahan ada solusi lah. Pemerintah jangan tinggal diam lah, jangan efek dari pembangunan justru merepotkan masyarakat. Udah lah fungsi geobag tidak ada, apalagi kemarin Komisi V dan PUPR sudah menyatakan ini salah konsep," ungkap Roni. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved