Kepala OJK Provinsi Kalbar Muhammad Yasin Sebut Pertumbuhan Perbankan Cukup Signifikan di Kalbar

Selain ketidakpastian ekonomi dan politik tersebut, industri perbankan kata Yasin juga dihadapkan pada semakin ketatnya persaingan...

Penulis: Maskartini | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Kepala OJK Provinsi Kalbar, Maulana Yasin. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat menggelar Recycling Program dan Evaluasi Kinerja Perbankan di Wilayah Kalimantan Barat Tahun 2022, Kamis 24 November 2022.

Kegiatan ini merupakan program rutin dari OJK yang diselenggarakan setiap tahun.

Kepala OJK Provinsi Kalbar, Maulana Yasin mengatakan secara keseluruhan perkembangan perbankan di Kalbar cukup baik.

"Alhamdulillah, perkembangan perbankan kita baik. Pertumbuhan perbankan di Kalbar cukup signifikan, apalagi terkait dengan laba sudah cukup menggembirakan untuk BPR. Untuk bank umum juga sampai Rp104 triliun, udah cukup cukup bagus perkembangannya. Jadi positif semua," ujarnya.

Yasin mengatakan bermula dari krisis kesehatan namun pada akhirnya juga berdampak terhadap aktivitas perekonomian dan khususnya kepada industri perbankan.

Kepala OJK Kalbar Harap Masyarakat Pahami Produk-produk Keuangan, Ini Alasannya

Namun demikian, semua di industri perbankan dapat melewati periode sulit tersebut dengan baik sehingga di Kalbar secara umum tidak ada permasalahan yang signifikan yang menggangu stabilitas perbankan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat menggelar Recycling Program dan Evaluasi Kinerja Perbankan di Wilayah Kalimantan Barat Tahun 2022, Kamis 24 November 2022.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat menggelar Recycling Program dan Evaluasi Kinerja Perbankan di Wilayah Kalimantan Barat Tahun 2022, Kamis 24 November 2022. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI)

"Tantangan ke depan tentunya juga tidak akan lebih mudah. Setelah memasuki periode post pandemic, industri perbankan kini dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi di tingkat global dan domestik. Pengetaan kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia, ketegangan geopolitik dan inflasi yang meningkat tentu juga akan berdampak terhadap kinerja perbankan," ujarnya.

Selain ketidakpastian ekonomi dan politik tersebut, industri perbankan kata Yasin juga dihadapkan pada semakin ketatnya persaingan dan meningkatnya tren digitalisasi, tidak hanya di perbankan namun juga di industri jasa keuangan yang sejenis.

"Nah, dalam menghadapi tantangan tersebut, kami telah melakukan identifikasi terhadap tantangan utama yang dihadapi oleh industri perbankan di Kalbar. Kemudian mencoba untuk memberikan alternatif solusi khususnya dalam rangka menjaga pertumbuhan bisnis utama (kredit) secara berkualitas melalui strategi bisnis yang memadai dan berkelanjutan," ungkapnya.

Industri perbankan juga dituntut untuk terus berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.

Pada Oktober 2022 Rasio Kredit Produktif baru mencapai sebesar 56,48 persen sedangkan Rasio Kredit UMKM masih tergolong rendah atau baru mencapai 37,25 persen.

"Kegiatan capacity building bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM perbankan di Kalimantan Barat melalui penyaluran kredit secara berkualitas dan berkelanjutan serta sejalan dengan potensi perekonomian daerah," ujarnya.

Kepala OJK Kalbar Sebut Peningkatan Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Jadi PR Bersama

Peserta kegiatan terdiri dari Bank Kalbar dan seluruh BPR se-Kalbar.

Hadir dalam acara ini narasumber Roberto Akyuwen, Kepala OJK Regional 1 DKI Jakarta dan Banten dengan Kolaborasi Perbankan Dengan Perusahaan Financial Technology.

Narasumber lainnya yaitu Andre Bramandita Linting, Kepala Subbagian OJK Regional 1 DKI Jakarta dan Banten, dan Reni Rahardja (PT BPR Magga Jaya Utama) dengan materi Peluang, Tantangan dan Mitigasi Risiko Dalam Kerjasama Penyaluran Kredit Antara Perbankan Dengan Penyedia Layanan Jasa Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Roberto Akyuwen, Kepala OJK Regional 1 DKI Jakarta.
Roberto Akyuwen, Kepala OJK Regional 1 DKI Jakarta. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI)

Hadir juga Vajarudin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk KC Pontianak yang menyampaikan materi terkait Kredit Modal Kerja (KMK) UMKM.

Untuk menjaga stabilitas industri perbankan di Kalbar, OJK Kalbar kata Yasin senantiasa melakukan pengawasan secara holistik, tidak hanya deskriptif dan diagnostic namun juga prediktif dan preskriptif.

OJK Kalbar menerapkan early warning system melalui permodelan dan stress-testing untuk mengukur dampak dari perubahan indikator makroekonomi dan sektoral serta kebijakan fiskal dan moneter terhadap kinerja perbankan khususnya risiko likuiditas, kredit dan pasar untuk periode saat ini dan periode yang akan datang sehingga dapat dilakukan tindakan pengawasan secara cepat dan tepat.

"Harapan saya, program capacity building ini diharapkan mampu memberikan wawasan bagi industri perbankan di Kalimantan Barat agar mampu lebih adaptif dan inovatif dalam mengembangkan produk dan layanan kepada masyarakat sehingga mampu meningkatkan literasi dan inklusi keuangan," ujarnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved