11 Kasus Positif Covid Baru di Kalbar, Omicron BA5 Berpotensi Meningkat Bulan Juli
Sebanyak 11 kasus tersebut didapat dari pemeriksaan sebanyak 4.406 sampling selama tujuh hari atau rata-rata perhari sekitar 629 sampling.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Hary Agung Tjahyadi , mengatakan dalam 7 hari terakhir kasus konfirmasi positif ada 11 kasus baru di Kalbar. Angka itu didapat mulai 15 Juni sampai 21 Juni 2022.
Sebanyak 11 kasus tersebut didapat dari pemeriksaan sebanyak 4.406 sampling selama tujuh hari atau rata-rata perhari sekitar 629 sampling.
“Jadi 11 kasus dari 4.406 sampling sama dengan 0,25 persen. Artinya positivity rate selama sepekan masih di bawah 1 persen,” ujar Hary Agung Tjahyadi kepada Tribun Pontianak, Rabu 22 Juni 2022.
Dikatakannya sedangkan untuk kasus aktif saat ini hanya tersisa 8 kasus konfirmasi aktif di Provinsi Kalbar per 21 Juni 2022. Perkembangan kasus covid-19 di Kalbar sampai 21 Juni 2022 dengan total kasus dari awal covid-19 sampai saat ini sebanyak 64.703 kasus.
Kemudian total kasus sembuh sebanyak 36.552 kasus atau 98, 22 persen. Kemudian komulatif kasus meninggal sebanyak 1.143 kasus atau 1,77 persen.
• Covid-19 di Singapura Meroket! Omicron BA.4 dan BA.5 Sebabkan Lonjakan Kasus Infeksi Harian
Selanjutnya untuk kasus aktif pada 21 Juni 2022 sebanyak 8 orang atau 0,01 persen. “Dari 8 orang ini semua dilakukan isoman dan tidak ada dirawat di rumah sakit,” ucap Hary Agung Tjahyadi.
Ia mengatakan sejauh ini perkembanhan covid-19 di Kalbar mulai landai sejak 16 April 2022 sampai hari ini. “Jadi sudah dua bulan lebih Kalbar pada posisi landai dengan positivity rate di bawah 1 persen,” pungkasnya.
Covid Belum Selesai
Terkait peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia sepekan terakhir, Ketua Tim Laboratorium Jejaring Surveilance Genom SARD CoV2 Nasional, RS Untan, dr Andriani, mengingatkan kembali kepada masyarakat, bahwa pandemi belum selesai. Ia meminta agar warga tetap mentaati lima M dan tiga T penting untuk dilakukan.
Ia juga menuturkan, pihaknya terus mendorong masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi, khususnya booster.
“Terus kemudian juga kelompok masyarakat yang belum vaksin, yang sudah bisa booster kita dorong untuk melakukan vaksin booster. Sebab, antibodi ini secara bertahap akan menurun, jadi silakan lakukan booster,” ujarnya, Rabu 22 Juni 2022.
Selain itu menurut penuturannya, testing atau pemeriksaan dini untuk dapat mengetahui kondisi seseorang terjangkit Covid-19 atau tidak, masih sangat penting untuk dilakukan.
Ia menyebutkan, dalam beberapa bulan belakangan terjadi penurunan jumlah testing di Indonesia dan Kalbar. Dirinya menilai, dengan adanya penurunan jumlah testing tersebut tidak berbanding lurus sebagai patokan jumlah positivity rate di Indonesia.
• Hary Agung Tjahyadi Nilai Wabah Covid-19 Pengaruhi Penurunan Cakupan Imunisasi di Kalimantan Barat
“Jadi yang angka positif sekarang itu kalau menurut saya tidak representatif mengambarkan berapa banyak positivity rate yang ada di masyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai, penurunan jumlah testing tersebut terjadi karena beberapa kendala, satu di antaranya masyarakat sudah tidak lagi melakukan pemeriksaan swab. Padahal kata dia, pemilihan testing Covid-19 saat ini ada beberapa opsi, satu di antaranya dengan kumur.
“Tapikan pemilihan untuk pemeriksaan Covid-19 ini tidak hanya dengan swab, sekarang kumur-kumur juga sudah bisa. Jadi sekarang tidak terlalu infasif dan terlalu menyakiti,” katanya.
dr Andriani mengimbau kepada masyarakat terkait dengan peningkatan kasus Covid-19. Kata dia, kemungkinan gelombang peningkatan di bulan Juli ini, diperkirakan penyebabnya adalah varian Omricron Sub Varian BA4 dan BA5 dimana di Indonesia sendiri sudah ditemukan menyebar.
Trend Naik
Kendati demikian, kata dia karena testing, tresingnya tidak tinggi, menyebabkan pihaknya tidak tahu berapa gambaran sub varian ini di tiap-tiap daerah. Menurut penjelasannya, virus Covid 19 selalu bermutasi dan menyebabkan munculnya sub-sub varian baru melalui penyebaran.
Untuk itu ia mengimbau, peran kita sebagai masyarakat agar virus ini tidak terus berubah dan mutasi, tetap harus mentaati 5 M dan 3 T. Serta melakukan vaksinasi, baik 1, 2, 3 maupun boster. “Karena antivirus untuk Covid-19 belum ada, jadi itulah cara yang paling efektif untuk melindungi kita semua, terutama golongan yang rentan,” imbaunya.
Sementara itu Tren kenaikan kasus konfirmasi harian Covid-19 di tanah air terus berlanjut. Pada Rabu (21/6), kasus konfirmasi bertambah 1.985, menurut data Satuan Tugas Penanganan Covid-19.
Tambahan 1.985 kasus ini lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat 1.678. Dengan demikian, total kasus konfirmasi mencapai 6.072.918. Sementara itu kasus sembuh bertambah 687 sehingga totalnya 5.904.825. Sedangkan kasus meninggal bertambah dua jiwa. Dengan begitu, sudah ada 156.702 orang yang wafat akibat Covid-19 di Indonesia. Untuk kasus aktif naik 1.296 sehingga menjadi 11.391.
Kondisi serupa juga dilaporkan sejumlah negara tetangga di mana tambahan kasus meningkat pesat setelah menyebarnya subvarian Omicron BA4, BA5. Beberapa tetangga Indonesia juga melaporkan kenaikan kasus yang cukup signifikan kemarin.
Singapura melaporkan tambahan kasus sebanyak 7.109 pada Selasa (21/6/2022), naik 120 % dibandingkan hari sebelumnya.
Kasus di Thailand tercatat 3.175 pada Selasa kemarin, turun 13 % dari hari sebelumnya yang tercatat 3,682 kasus. Meski demikian, kasus di Thailand selalu melewati 3.000 per hari dalam lima hari terakhir.
Kasus di Australia juga melonjak 30 % menjadi 29.365 pada Selasa kemarin dari 22.526 kasus pada hari sebelumnya. Namun, kasus Malaysia justru turun 8,2 % menjadi 1.921 pada Selasa kemarin dari 2.093 pada hari sebelumnya. Filipina melaporkan tambahan kasus 3.051 untuk periode 13-16 Juni 2022, naik dibandingkan pada periode 6-12 yakni 1.652.
Dicky Budiman, epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia mengingatkan tambahan kasus Covid-19 di Indonesia jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan. Namun, karena tracing dan tes rendah maka jumlah yang dilaporkan jauh di bawah yang sebenarnya.
Seperti diketahui, varian baru dari virus Corona terus berkembang. Terbaru, sepasang sub-varian Omicron muncul lagi dan menimbulkan kekhawatiran para penyintas Omicron bisa kembali tertular. Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dilaporkan telah mendapatkan perhatian di Afrika Selatan. Karena kasus mingguan di sana meningkat tiga kali lipat dalam dua minggu terakhir di bulan Mei lalu, ungkap data dari Universitas John Hopkins.
Sementara itu, menurut para ahli, pasien varian Omicron pertama BA.1 tidak mungkin terinfeksi ulang subvarian BA.2 atau bahkan lebih menular. Namun BA.4 dan BA.5 nampaknya berbeda dari subvarian sebelumnya.
Booster Masih Rendah
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan total sasaran vaksinasi di Kalbar sebanyak 3.872.477 orang. Berdasarkan data sampai 21 Juni 2022 total vaksinasi satu (V1) di Kalbar telah mencapai 89,38 persen, V2 sebanyak 72,43 persen. Sedangkan V3 sudah 13, 58 persen.
Oleh karena itu, ditegaskannya perlu upaya terus menerus untuk melakukan vaksinasi ketiga atau booster yang masih rendah.
“Kalau kita lihat V1,V2 sudah cukup tinggi. Maka V3 harus mencapai target 70 persen. Oleh karena itu kami mengimbau kepada masyarakat yang sudah vaksinasi lengkap atau V2 dan sudah memenuhi waktu untuk dilakukan booster minimal tiga bulan setelah V2 silahkan segera mengunjungi tempat fasilitas vaksinasi,” harap Hary Agung.
Sehingga dengan vaksinasi booster. Maka kekebalan tubuh akan bertambah dan rentang waktu terhadap covid-19 akan semakin panjang. Sedangkan untuk vaksinasi lansia pada V1 sebanyak 61,79 persen yang sudah diatas target 60 persen. Lalu V2 sebanyak 46,50 persen. “Sehingga upaya kita harus meningkatkan V2 agar mencapai dan sama dengan V1 diatas 60 persen,” ujarnya.
Selanjutnya untuk kelompok anak-anak V1 sudah mencapai 60,34 persen, V2 sebanyak 39,4 persen. Dengan angka tersebut dikatakannya untuk kelompok anak harus terus ditingkatkan.
“Dalam upaya meningkatkan vaksinasi covid-19 di masyarakat, kami jajaran Diskes,TNI dan Polri tetap memberikan pelayanan vaksinasi, baik di tempat puskesmas, klinik , RS dan sentra vaksinasi dan juga yang bergerak pada gerai vaksinasi,” ungkapnya.
Mengapa belum semua warga divaksinasi? Ia menjelaskan ada kesenjangan V1, V2, V3, khususnya pada V3 yang masih rendah.
“Saya melihat masyarakat menganggap dengan V2 sudah cukup. Padahal dengan pemberian Booster akan memperkuat kekebalan tubuh seseorang, dan perpanjang rentang waktu kekebalan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa antibodi seseorang seiring dengan waktu pasti akan ada penuruanan. Oleh karena itu perlu adanya vaksinasi booster untuk memperkuat dan memperpanjang rentang waktu kekebalan tubuh seseorang. Di samping itu adanya kelonggaran regulasi prokes, dimana masyarakat menganggap covid-19 sudah selesai. “Padahal sampai hari ini pandemi masih berjalan. Perlu disadari masyarakat tiap hari masih berisiko penularan kasus baru yang tetap ada,” ujarnya.
Oleh karena itu, prokes wajib dilaksanakan dengan menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun dan hand sanitizer, untuk menjadi kebiasaan yang baik dan budaya yang sehat. Kemudian menghindari kerumunan sehingga resiko penularan covid-19 bisa dihindari.
“Kita harus perlu waspada karena di Jawa terutama di DKI Jakarta ada kenaikan kasus yang tadinya landai sekarang jumlah kasus meningkat hampir 100 persen dari jumlah kasus landai,” ujarnya.
Sehingga perlu kewaspadaan bagi daerah di luar Jawa Bali untuk tetap prokes sebagai upaya yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penularan covid-19 .sehingga bisa terhindar dari lonjakan covid-19. “Saya kira perlu kesadaran dan kerjasama semua pihak dengan tetap disiplin prokes . Sehingga tidak trjadi kenaikan kasus di Kalbar,”pungkas Hary Agung Tjahyadi.