Tips Kesehatan

Jika Pasien Covid-19 Sedang Isolasi Mandiri dan Mendapatkan Gejala Berikut, Segera Bawa ke RS

Meski demikian, pasien Covid-19 gejala ringan yang melakukan isolasi mandiri di rumah sebaiknya tetap memantau gejala-gejala yang harus diwaspadai.

KOLASE TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ COVID-19/ YOUTUBE
BUAH untuk Penderita Covid Agar Cepat Sembuh. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kasus Covid-19 masih terus meningkat. Kewaspadaan kita juga harus meningkat pula dalam menjaga protokol kesehatan.

Melonjaknya kasus infeksi Covid-19 di Indonesia yang terus meningkat, menyebabkan banyak rumah sakit tak bisa lagi menerima pasien karena telah melebihi kapasitas.

Sehingga, banyak pasien Covid-19, mau tak mau melakukan isolasi mandiri di rumah.

Bukan hanya yang tanpa gejala, tapi juga yang bergejala ringan.

Meski demikian, pasien Covid-19 gejala ringan yang melakukan isolasi mandiri di rumah sebaiknya tetap memantau gejala-gejala yang harus diwaspadai.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Hendra Gunawan SpPD mengungkap, pada orang dewasa dengan Covid-19 ada beberapa tanda kegawatan yang harus diwaspadai saat isolasi mandiri, yaitu ketika muncul tanda gejala pneumonia, seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas.

[Update Informasi Kesehatan Disini]

Mengenal Sejarah Penemuan Obat Bakteri Yakni Ivermectin Asal Jepang, Dipercaya Sebagai Obat Covid-19

“Harus segera ke rumah sakit, jika gejala pneumonia itu disertai dengan minimal satu dari tanda distress pernapasan berat, yaitu saturasi oksigen di bawah 92 persen tanpa bantuan oksigen, kemudian frekuensi napas lebih dari 30 kali per menit,” jelas dr. Hendra dikutip dari Kompas.com, Jumat 9 Juli 2021.

“Selain itu jika ada sesak napas berat, granting (adanya suara saat melepas atau menarik napas), ada tarikan dinding dada, adanya otot-otot yang membantu pernapasan, maupun pernapasan cuping hidung juga harus segera ke rumah sakit,” lanjutnya.

Lebih lanjut dr. Hendra mengatakan, ada berbagai faktor penyebab turunnya saturasi oksigen, mulai dari imunitas yang kurang baik hingga kecemasan.

Bukan hanya itu, adanya tumpangan infeksi sekunder yang disebabkan menurunnya imunitas, akibat penyakit komorbid seperti diabetes, hipertensi, asma, merokok, atau kondisi paru awal yang kurang baik juga bisa memengaruhi saturasi oksigen.

“Semua faktor itu bersinergi dan saling tumpang tindih. Bahkan ada kalanya sulit mengetahui, mana yang terjadi duluan. Belum lagi, jika muncul badai sitokin, kondisinya akan semakin berat, saturasi oksigen bisa turun terus,” ujar dokter yang praktik di Primaya Evasari Hospital ini.

Berikut Rekomendasi Obat Covid-19 Tanpa Gejala Menurut Dokter Fakultas Kedokteran UI

Ia menambahkan, sebab lain yang mungkin terjadi adalah ketika pasien tidak terobservasi dengan baik.

Misalnya, sebenarnya sejak awal sudah membutuhkan bantuan oksigen, tapi pasien merasa baik-baik saja dan berusaha kuat, sehingga pada hari ketiga atau keempat bukan tidak mungkin jika level saturasi oksigennya menurun.

Dr. Hendra menyarankan, untuk mencegah sesak napas dan turunnya angka saturasi, selama isolasi mandiri, pasien Covid-19 bisa melakukan fisioterapi napas, seperti melakukan posisi proning, posisi tidur setengah duduk atau posisi tidur menghadap ke samping kanan atau samping kiri sambil memantau saturasinya.

Seperti telah diberitakan Kompas.com sebelumnya, proning adalah teknik yang terbukti secara medis dapat membantu meningkatkan jumlah oksigen.

APA itu Long Covid? Penyebab dan Dampak yang Diberikan Pada Populasi Manusia?

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved