BEM Poltesa Resmikan Perpustakaan Mini di Seret Ayon

Sejatinya, kegiatan itu direncanakan pada 25-28 Februari 2021, tetapi melihat kondisi dan situasi di lapangan, realisasi peresmian perpustakaan ini ba

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Peresmian perpustakaan Mini BEM Politeknik Negeri Sambas (Poltesa), di Desa Serat Ayon, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Sambas (Poltesa), Irfan Rabbani meresmikan perpustakaan mini di Desa Seret Ayon, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas.

Perpustakaan Mini itu merupakan hasil dari kerjasama Kodim 1208/Sambas dan BEM Poltesa dalam rangka merealisasikan pembangunan perpustakaan mini di salah satu desa tertinggal yakni Desa Seret Ayon, Kecamatan Tebas.

Kata Irfan, itu merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh BEM Poltesa.

"Di dalam kegiatan BEM Poltesa mengabdi ini, ada beberapa kegiatan tambahan seperti penyuluhan kepada masyarakat, sosialisasi pendidikan ke sekolah dan anak anak, serta pendataan siswa putus sekolah," ujarnya, Rabu 17 Maret 2021.

Sejatinya, kegiatan itu direncanakan pada 25-28 Februari 2021, tetapi melihat kondisi dan situasi di lapangan, realisasi peresmian perpustakaan ini baru bisa dilaksanakan sekarang.

Ungkap Irfan, pelaksanaan kegiatan itu adalah bagian dari solusi untuk menyelesaikan masalah pemerataan pembangunan di bidang pendidikan di Kabupaten Sambas.

"Baik dari segi sarana dan prasarana, maupun muatan pelajaran serta tenaga pendidik terkhusus di daerah daerah tertinggal (3T)," kata Presma Poltesa.

Baca juga: Jadi Pintu Masuk Narkoba, BEM Poltesa Minta Pemda Sambas Bentuk BNN Kabupaten

Dijelaskan dia, di Desa Seret Ayon sendiri ada sekitar 350 KK dan hanya ada 1 Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dan itu pun sekolah satu atap, dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan serta tak layak.

Tidak hanya itu, sekolah itu juga kekurangan buku-buku pelajaran dan seragam yang tidak lengkap.

"Ini saya dapat langsung dari melihat kondisi lapangan sekolah. Bahkan kata kepala sekolah SMP disini, sering memesan buku pelajaran dan datang ke sekolah selalu terlambat bahkan sampai 1 tahun baru datang sejak dipesan," jelasnya.

"Sekolah disini juga tidak setiap hari, tetapi 1 minggu ada yang 3 kali, bahkan tidak sama sekali dikarenakan tenaga pendidik yang berasal dari Sambas dan Tebas tidak datang ke sekolah," tambahnya.

Kebanyakan anak-anak di Desa Seret Ayon hanya mendapat jenjang pendidikan paling tinggi SMP. Dan hanya sedikit yang mau melanjutkan ke SMK/SMA, apalagi sampai ke jenjang Perguruan Tinggi.

"Ini disebabkan juga oleh lokasi geografis Desa Seret Ayon yang berada di tengah tengah perusahaan sawit. Sehingga warga mayoritas bekerja disana, bahkan anak-anaknya juga," tutup Irfan Rabbani. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved