Citizen Reporter
Kisah Pastor Petrus CP, Sang Misionaris Ransel dan Rimba
Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini, menuturkan cerita singkatnya.
Segala jenis makanan, apapun itu yang diberikan kepada saya itu semua “No Problem” untuk menjadi santapan.
Sejak awal saya hidup di Tanah Kalimantan, saya terjun secara total dalam kerasulan melalui turne berturut-turut dalam situasi apapun.
Dalam turne itu yang menjadi prioritas dan fokus utama adalah menggerakkan segenap tenaga dan fisik untuk menggunjungi umat melalui Turne berkelanjutan.
Selama 15 tahun, saya menjelajahi seluruh daerah sungai Belitang Hulu - Belitang Hilir sampai dekat perbatasan Sarawak, dan selama 25 tahun saya menelusuri sampai ke pelosok-pelosok daerah Sungai Menterap, Sungai Kerabat dan Sungai Sekadau.
Bahkan seluruh daerah Suku Taman, hingga tanah Meliau dan itu juga sebagian dari Keuskupan Sintang.
Kini sudah hampir 6 tahun saya bertugas di Paroki Sungai Ambawang yang berpusat di Lingga (Keuskupan Agung Pontianak).
Kunjungan umat di daerah-daerah sebelumnya, dilaksanakan terus-menerus dengan jalan kaki, kecuali di Paroki Sungai Ambawang yang adalah daerah banyak Sungai.
Sejak semula, masuk di Tanah Kalimantan, saya sudah tertarik sekali dengan hidup orang Dayak yang mirip seperti kehidupan di waktu saya masih kecil-persis di Kampung Halaman, Padula yang letaknya sekitar 200 KM dari Roma.
Dulu pada tahun 70an-80an, ketika musim kemarau dan musim hujan, masih tetap stabil dan teratur.
Jadi, pada musim hujan, tetap hujan dan pada musim kemarau tetap kemarau. Di dalam kedua musin ini, umat di kampung-kampung tetap dikunjungi tanpa syarat dan dalam situasi apapun.
Saya merasa dikhususkan, terpanggil untuk mewartakan Sengsara Yesus di antara Suku Dayak.
Di tahun-tahun kehidupan saya sebagai Missionaris.
Saya telah berjalan tanpa lelah dan mengalami segala bahaya yang tersembunyi di rimba belantara.
Saya dapat merangkumnya dengan baik.
Seluruh hidup saya yang selama di tanah Borneo itu terangkum dengan dua kata saja yaitu Ransel dan Hutan Belantara, ini berarti “angkat ransel dan berangkat turne.”
Segala tantangan dalam hidupku sebagai missionaris tidak menyurutkan semangatku.
Namun kerasulan mengandung sengsara.
Jarak yang jauh antara kampung-kampung, lumpur setinggi lutut, mengigil karena demam malaria, lapar, sakit perut, kelelahan, sesat dalam perjalanan, hujan lebat, berjemur disertai tifus.
Perut yang memberontak, bahaya ular berbisa, bahaya banjir yang dalam dan berkelanjutan, bahaya karam di sungai Kapuas, biasa lesu tetapi tidak hilang asa, biasa putus asa dan kesepian.
Namun dalam semuanya ini semangatku untuk merasul tetap bertahan, bahkan tidak meninggalkan tekad untuk mewartakan injil.
Dalam segala hal tersebut, saya merasa terkesan dengan hidup Paulus dari Tarsus yang oleh Injil melakukan segala-galanya.
Menderita segala-galanya, mengorbankan segalanya, mengunjungi segala sudut dunia dimana orang belum mengenal Yesus Kristus. Rasul Paulus pada akhir hidupnya berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” (2 Tim 4,7).
Rasul Paulus adalah seorang pejuang yang gigih, penjelajah tanpa kenal lelah, pembalab tangguh yang telah menacapai garis finish.
Seluruh hidup Rasul Paulus adalah seperti seorang Petani Maraton, yang berlari untuk mewartakan Injil di mana saja.
“Cinta Kasih memerlukan Hati Yang Tahan Uji”
Dalam tugas perutusanku di Kalimantan perjumpaan pribadi ku dengan Yesus Kristus lebih meningkat karena Roh Kudus yang mendampingi ku dalam pewartaan Injil di antara Suku Bangsa Dayak.
Puji Syukur kepada Tuhan yang maha Baik karena telah membimbing langkah-langkah ku selama ini, melalui segala “Jalan Tikus” di Borneo.
Dua catatan penting dari cuplikan kisah singkat ini yaitu;
Pastor Petrus di Vincenzo sudah 46 tahun lebih bertugas di Kalimantan Barat, dan orang yang telah dipermandikan sebanyak 12.100.
Kedua yaitu jumlah misa kudus yang telah dipersembahkan selama 50 tahun yaitu sebanyak 19.129 kali Misa.
Termasuk misa yang baru dipersembahkan malam ini (15 Agustus 2020 di Stasi Lingga, Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang).
Atas perhatian para hadirin diucapkan dengan bulat hati, selamat malam, sekian dan terimakasih. (P. Petrus di Vincenzo).
Semoga dengan kisah iman yang inspiratif ini, bisa menjadi salah satu lilin terutama semangat dalam mewartakan Injil di tengah dunia dan di dalam situasi apapun.
Terima kasih kepada Pastor Petrus, CP sang Missionaris Ransel dan Rimba. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/nzjcjcjjjzjzjz.jpg)