Citizen Reporter

Kisah Pastor Petrus CP, Sang Misionaris Ransel dan Rimba

Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini, menuturkan cerita singkatnya.

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini, menuturkan cerita singkatnya dari perjuangan kecil hingga menjadi seorang imam. 

Kembali ke pegunungan selama 3 minggu dan masih tetap ditempuh dengan berjalan kaki.

Dalam keadaan cuaca apapun domba-domba tidak boleh ditinggalkan sendirian, karena serigala dan binatang-binatang buas lain akan menghancurkan (memangsa) seluruh kawanan.

Pengalaman saya dalam mengerjakan tugas itu, melihat bahwa domba-domba adalah binatang paling jinak antara segala segala ternak di dunia.

Maka Yesus mengumpamakan diri sebagai “Anak Domba Allah” karena itu saya yang hidup dalam ketakutan agar jangan sampai domba-domba ku dicuri pada malam atau siang hari.

Hidup dalam keadaan seperti ini menjadikan saya selalu waspada dan mulai saat itu ketika sudah datangnya malam.

Saya tidur dengan mata sebelah.

Semua ini sudah saya cicipi sebelum umur 15 tahun.

Pengalaman seperti ini sangat membantu saya dalam hidup yang saya jalani sampai saat ini yaitu menjadi missionaris di Kalimantan di antara suku Dayak yang saya kasihi.

Umur saya baru genap 15 tahun kemudian saya masuk seminari dan kala itu tahun ajaran pun sudah 3 bulan dimulai.

Secara otomatis dengan sendirinya saya terlambat 3 bulan masuk sekolah SD, sebab ayah saya tidak melepaskan ku untuk masuk seminari.

Maka kelas III SD aku terpaksa meloncat dua kelas sekaligus (kelas IV dan kelas V) dan langsung duduk di bangku kelas VI untuk mengejar teman-teman saya.

Perjuangan ini tidaklah mudah, apalagi berusaha dalam studi untuk mengikuti ritme sekolah bersama teman-teman terutama di kelas VI SD.

Meskipun kala itu terbilang sulit, namun saya mampu mengejar langkah teman-teman saya.

Jadi, untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun studi; 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP dan 1 tahun di Novisiat, 2 tahun di ilmu filsafat, 3 tahun di ilmu teologi dan 1 tahun untuk spesialisasi tentang ilmu Teologi Parokial.

Jadi sejumlah kurikulum studi untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved