Breaking News:

Citizen Reporter

Kisah Pastor Petrus CP, Sang Misionaris Ransel dan Rimba

Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini, menuturkan cerita singkatnya.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini, menuturkan cerita singkatnya dari perjuangan kecil hingga menjadi seorang imam. 

Citizen Reporter
Samuel, Komsos Keuskupan Agung Pontianak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ransel dan Rimba inilah yang menjadi rangkuman cuplikan 46 tahun bertugas di Kalimantan Barat.

Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini, menuturkan cerita singkatnya dari perjuangan kecil hingga menjadi seorang imam.

Tulisan ini diambil dari cuplikan singkat hidup P. Petrus, CP Missionaris Passionis yang berkarya di Pulau Borneo, terlebih khusus di Kalimantan Barat dalam momen kata sambutan 50 Tahun Imamat di Lingga 15 Agustus 2020 (kenangan yang dimulai dari Padula 15 Agustus 1970).

Dalam sambutannya, ia mulai dengan tutur kalimat dan cerita tangisan pengalamannya menjadi seorang Imam.

Mari kita dengar cuplikan ceritanya.

P. Pietro di Vincenzo (Pastor Petrus, CP)
Saudara-saudara yang saya hormati dan yang saya kasihi, perkenankanlah saya dalam kesempatan ini menyapaikan beberapa buah tangisan tentang hidup saya, yaitu dari pengalaman saya sedari kecil.

Saya berasal dari keluarga yang terlahir atas 7 bersaudara; 5 laki-laki dan 2 perempuan.

Dari 7 bersaudara itu, saya adalah anak yang bungsu.

Keluarga saya merupakan keluarga yang sederhana (miskin).

Halaman
1234
Editor: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved