Citizen Reporter
Kisah Pastor Petrus CP, Sang Misionaris Ransel dan Rimba
Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini, menuturkan cerita singkatnya.
Pada tahun terakhir kuliah, saya diberi gelar, Drs di Kota Roma tentang ilmu Teologi, yaitu tentang pengetahuan Ketuhanan belajar tentang Kitab Suci.
Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1970 saya ditahbiskan sebagai imam menurut kehendak Tuhan Yesus.
Selanjutnya setelah 3 tahun lebih dari pentahbisan imam, dan tepat pada tanggal 25 Januari 1974, Pesta Santo Paulus Rasul (Pertobatan Santo Paulus, Rasul ) aku berangkat ke Indonesia dengan tempat keberangkatan menuju tanah Borneo.
Kala itu, saya turun dari pesawat Garuda di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada pukul 10.00 WIB pagi.
Kemudian dari Jakarta, kami 3 orang ( 2 Pastor dan seorang Bruder) langsung berangkat menuju ke Singkawang untuk belajar Bahasa Indonesia selama 2 Minggu.
Kepada kami bertiga, masing-masing diberi seorang guru, kemudian kami berangkat ke Sekadau, dan 2 minggu kemudian saya diajak P. Gabriel Ramoc Chiaro, yang adalah seorang pastor dan sudah berpengalaman.
Lalu kami menuju ke Stasi Pakit, dan kemudian beberapa kali saya berturne bersama dia sembari belajar.
Sesudah itu turne saya melakukan perjalanan turne sendirian untuk mengunjungi umat di kampung-kampung, dan saya telah menjalankannya dengan komitmen yang tak henti-hentinya.
Sekarang saya telah mencapai (mendapat) kewarganegaraan Indonesia pada tanggal 24 Januari 1985, terhitung sudah 35 tahun lebih yang lalu.
Selama 46 tahun di tanah Kalimantan saya telah menggunakan waktu secara terus-menerus dan tidak terasa, tahun demi tahun, mengunjungi umat di mana saja mereka berada baik di kampung-kampung besar maupun di tempat sepi.
Kabar gembira tetap diwartakan dalam kondisi cuaca apapun, sabda Tuhan tetap diprioritaskan sebagai tugas utama dalam hidup saya.
Pulau Borneo adalah pulau nomor 3 yang terbesar di dunia.
Iklimnya panas-lembab menjadi ujian bagi orang yang hidup di Kalimantan.
Bagi saya hal itu “No Problem” sebab sejak kecil sudah biasa mengembala di hidup yang sulit.
Pengalaman saya sebagai gembala domba telah membentuk diri pribadi untuk selalu bersikap tahan dalam segala kesulitan hidup dan menyesuaikan diri dengan segala keadaan sekalipun serba sulit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/nzjcjcjjjzjzjz.jpg)