Indra Dwi Prasetyo Ungkap Dilema Pembelajaran Daring Selama Covid-19
Sebuah platform pendidikan tertentu bisa jadi berjalan optimal oleh seorang guru, namun hasil yang berbeda sangat mungkin terjadi
Penulis: Anggita Putri | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Penggiat Pendidikan Kalbar, Indra Dwi Prasetyo menyampaikan bahwa
COVID-19 setidaknya telah mencuri perhatian semua orang beberapa waktu terakhir ini.
Setidaknya, sejak pengumuman kasus ini 2 Maret 2020 silam oleh Presiden Joko Widodo, terdapat beberapa strategi pemerintah untuk meminimalisir dampak penyebarannya, “social distancing” adalah salah satunya.
Walau kemudian istilah ini diralat menjadi “physical distancing”, hal ini tidak memengaruhi esensi dari kampanye ini untuk menjaga jarak aman antar sesama individu.
Kampanye ini setidaknya berdampak atas banyak faktor, salah satunya pendidikan.
Opsi belajar dari rumah pada akhirnya diambil oleh Kemendikbud yang memungkinkan para siswa untuk tetap belajar walau dari rumah dengan memanfaatkan teknologi daring (online).
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kemendikbud juga menggandeng TVRI untuk membuat program “Belajar Dari Rumah”.
• Langkah-langkah Membuat Album Foto, Jawaban Soal SD Kelas 1,2,3 Belajar di Rumah TVRI Senin 27 April
“Pertanyaan besarnya, seberapa siap para pendidik serta pelajar menyikapi pembelajaran dari ini? ,” ujarnya, Senin (27/4/2020).
Dalam satu minggu terakhir ini, ia dan teman-teman alumni LPDP Kalimantan Barat mengadakan Virtual Educator untuk guru-guru Kalimantan Barat.
Tercatat sekitar 1.500 Guru yang mendaftarkan diri untuk belajar bagaimana menggunakan teknologi daring dalam pengajaran.
Materi yang diberikan beragam, mulai dari bagaimana menyusun pembelajaran daring, membuat pertemuan belajar secara daring hingga membuat kuis atau soal secara virtual.
Kata kuncinya satu: bagaimana para guru terbiasa menggunakan pembelajaran daring.
Mungkin solusi di atas terlihat sederhana, namun hal ini bukan berarti tanpa kendala.
Mengutip Brunner (1996) dalam bukunya “The Culture of Education” bahwa tantangan Pendidikan adalah mengaktualisasikan pengetahuan dan pengalaman untuk menyelesaikan masalah hari ini.
Disini adalah letak masalah pertamanya, tidak semua pendidik memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mitigasi pendidikan ditengah wabah seperti ini.
“Kita semua hanya mencoba untuk meraba-raba tentang cara yang kita anggap terbaik yang bisa kita lakukan agar proses belajar mengajar dapat terus terlaksana. Walau bisa jadi, cara tersebut belum teruji efektifitas serta dampaknya,” ujarnya.