Virus Corona Masuk Kalbar
Pengalaman Tak Menyenangkan Para Tim Posko Covid-19 Dinas Kesehatan, Ditolak hingga Dimaki Warga
Ada yang marah, maki-maki. Ada juga yang kasih semangat. Tapi banyaknya mereka ndak kooperatif. Padahal kami butuh jawaban mereka
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Jamadin
Jika seseorang mengisolasi diri, maka dia masih boleh berada di tengah keluarga. Namun harus menjaga kontak fisik dan tidak boleh berjarak kurang dari dua meter dari anggota keluarga yang lain.
"Harus pakai masker terus, supaya percikan ludahnya tertahan di masker," jelas dia.
Isolasi mandiri bertujuan untuk melindungi masyarakat yang sehat, agar tidak tertular virus COVID-19.Yuri menjelaskan kontak sosial tetap boleh dilakukan, namun jarak sosial harus tetap dijaga. Masker yang digunakan pun masker apa saja.
Isolasi diri, tidak harus berkelompok. Melainkan bisa satu orang di rumah, bersama anggota keluarga yang lain. Asalnya menggunakan alat makan sendiri, tidak kontak dekat dengan keluarga, dan menggunakan masker.
Selain itu, perlu juga memastikan individu yang melakukan isolasi mandiri itu tetap gembira, karena perasaan stres sangat mempengaruhi status imunitas seseorang."Kuncinya, isolasi mandiri bisa dimana saja tapi harus membawa rasa tenang," imbuh dia
Sayangnya, beberapa hari terakhir intensitas laporan warga berkurang.
Padahal, keluar masuk warga dari luar Sintang masih banyak. Warga enggan melaporkan diri, lantaran tidak menunjukan gejala corona. Padahal OTG ini 86 persen orang yang terpapar Covid-19 tidak terdeteksi dan tidak memiliki gejala.
"Begitu dia pulang dari luar daerah, tidak ada gejala batuk, pilek, demam, makanya tidak melapor. Padahal itu bisa diklasifikasikan OTG. Itu tetap kita pantau. Kita tidak mau kecolongan, tau tau muncul satu PDP. Saya tidak mau masyarakat terlena karena masih belum ada kasus, jadi santai-santai tidak waspada," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh.
Stigma negatif masyarakat terhadap ODP juga menyulitkan upaya penelusuran riwayat pelapor. Harusnya, masyarakat memang dianjurkan waspada, akan tetapi bukan berarti menjauhi dan mengusir warga yang baru datang dari luar daerah.
“Sekarang ini, sifat sosial sudah mau hilang. Orang pingsan bukan ditolong, tetapi telepon hotline minta tim turun. Sosial distancing ekstrem. Kejadian lain tetangga pingsan, istrinya minta tolong tetangga, tapi ndak ada yang mau nolong. Semua nelpon kamin, tim kami datang. Kita minta masyarakat jangan takut, tapi waspada. Jangan lah hilang sifat sosial kita," pinta Harysinto Linoh.
Akibat dari stigma negatif itu juga menyebabkan perlakuan tak mengenakan diterima para tim evakuasi. Selain tak kooperatif, warga juga ada yang menolak kedatangan tim yang menggunakan APD lengkap. Mereka takut, apabila dikunjungi tim dengan APD lengkap, akan dikucilkan oleh tetangga.
"Tim diusir gegara bawa ambulance dan APD lengkap. Mereka takut akan dijauhi warga. Padahal, kami lakukan itu sesuai dengan SOP. Tapi masyarakat tidak terima. Kami diusir. Telepon dimatikan. Kena maki-maki pun ada. Tolong lah, jangan mengucilkan orang. Jangan hilang sifat sosial kita," harap Harysinto Linoh.
Penolakan itu lah yang dialami tim evakuasi seperti Dedi Kosasi ketika tim berkunjung ke rumah warga berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang mempuyai riwayat perjalanan ke Pontianak dan mengalami demam.
Padahal, sebelum mengevakuasi ODP, Dedi dan timnya sudah melakukan komunikasi persuasif. Mendatangi beberapa tetangga tanpa APD, untuk mencari alamat warga tersebut. Supaya, ketika tim dengan APD lengkap bergerak, tidak membuat warga heboh.
Cara lainnya, tim evakuasi akan terlebih dahulu menghubungi orang bersangkutan supaya tidak kaget ketika didatangi tim evakuai dengan APD lengkap.