Virus Corona Masuk Kalbar

Pengalaman Tak Menyenangkan Para Tim Posko Covid-19 Dinas Kesehatan, Ditolak hingga Dimaki Warga

Ada yang marah, maki-maki. Ada juga yang kasih semangat. Tapi banyaknya mereka ndak kooperatif. Padahal kami butuh jawaban mereka

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Jamadin
Dok. Dedi
Bersiap: Tim evakuasi Dinas Kesehatan bersiap berkunjung ke rumag ODP mengenakan ADP lengkap untuk mengindari kontak langsung terhadap orang yang belum diketahui status penyakitnya. 

"Ada yang marah, maki-maki. Ada juga yang kasih semangat. Tapi banyaknya mereka ndak kooperatif. Padahal kami butuh jawaban mereka," kata Relly Julita.

Tata menduga, masyarakat tidak kooperatif karena khawatir apabila ada gejala mirip corona lantas dijemput oleh tim lalu diisolasi. Padahal, tidak demikian.

"Masyarakat berfikir, karantina itu kayak diisolasi dalam ruangan, atau dijemput paksa terus masuk rumah sakit dan ndak boleh keluar. Padahal, tidak demikian," ujar  Relly Julita.

Untuk diketahui, pemerintah mengklasifikasi untuk pencegahan Covid 19. Setiap orang yang melaporkan diri ke Posko Covid setelah bepergian ke daerah yang terkonfirmasi atau pernah kontak erat dengan kasus confirmasi Covid yang tidak punya gejala masuk klasikifasi Orang Tanpa Gejala (OTG).

Kemudian, apabila orang tersebut memiliki gejala mirip seperti Covid-19 seperti demam tinggi disertai batuk, pilek dan ada riwayat tinggal atau perjalanan ke daerah terkonfirmasi, maka diklasifikan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP), ini pun harus disertai dengan keterangan dokter.

Klasifikasi meningkat ke Pasien Dalam Pengawasan (PDP) apabila orang tersebut dicurigai terpapar corona dan harus dirawat intensif di rumah sakit.

Kapolsek Pemangkat Bagikan Masker Ditengah Wabah Covid-19

Kejujuran warga penting untuk pencegahan penularan virus corona. Setiap warga yang melapor, tim akan menghubungi setiap harinya untuk memantau kondisinya.

Apabila ada keluhan seperti gejala Corona, tim evakuasi juga akan datang ke rumah warga tersebut. Sayangnya, tidak semua warga kooperatif.

"Padahal kita telpon mereka kita tanya riwayat perjalaan, ada keluhan tidak, intinya kita nanya mereka itu untuk kita mau tahu memantau keadaan kesehatan mereka. Misal ada salah satu gejala kita langsung proses biar meminimalisir gejalanya. Laporan itu dianalisis dokter. Kalau batuk biasa bahkan kita kasih obat. Kalau ndak sembuh, kita ambil tindakan," beber  Relly Julita.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Achmad Yurianto mengatakan orang yang melakukan isolasi mandiri bukan berarti untuk diasingkan oleh masyarakat.

Dalam hal ini masyarakat diharapkan dapat memahami agar tidak terjadi salah pengertian dan penanganan warga yang sedang melakukan isolasi mandiri sebagai upaya memutus rantai penyebaran covid-19.

"Bukan berarti isolasi sosial atau diasingkan,” terang Yuri di Gedung Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, seperti rilis yang diterima Tribun Pontianak.

Dalam hal ini isolasi mandiri menjadi kunci penting sebagai upaya pencegahan virus SARS-CoV-2 atau Corona penyebab Covid-19 yang menular kepada orang tidak sakit terutama rentan tertular.

Yurianto mengatakan isolasi diri bukan berarti diasingkan melainkan dalam konteks menjaga jarak fisik.

Sebab, COVID-19 ini menular melalui percikan ludah atau droplet yang keluar dari yang sakit saat dia berbicara, batuk atau bersin. Itu menjangkau jarak sekitar satu hingga 1,5 meter.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved