Berusia 56 Tahun, Bukan Halangan Bagi Cheddy Dahlan Daki Gunung Kelam
Jujur sebelum naik informasi saya berasumsi bahwa pendakian ini murni pendakian ferrata seperti saya alami ketika naik ke gunung Parang.
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Maudy Asri Gita Utami
SINTANG - Ada perasaan senang, sekaligus was-was saat Cheddy Dahlan, traveler Indonesia menjejakkan kakinya di lereng Gunung Kelam.
Perasaanya campur aduk, antara senang bukan kepalang karena bisa melihat langsung gunung batu terbesar di dunia dan was-was karena akan mendakinya.
“Rasanya keingintahuan saya dengan gunung monolith terbesar dunia ini terpenuhi."
"Bukan itu saja, ada rasa senang bercampur was was bahwa saya juga akan menaiki puncaknya,” cerita Cheddy Dahlan kepada Tribun Pontianak melalui surel, Senin (9/12/2019).
• Launching Vea Ferrata, Sadtata: Saya Pastikan Gunung Kelam Jadi Destinasi Wisata Internasional
Semula, Cedi—sapaan akrab Cheddy Dahlan—berasumsi, bahwa pendakian Via Ferrata di TWA Gunung Kelam seperti yang pernah dijajal Cedi ketika naik ke gunung Parang, di Padalarang, Jawa Barat.
“Jujur sebelum naik informasi saya berasumsi bahwa pendakian ini murni pendakian ferrata seperti saya alami ketika naik ke gunung Parang."
"Rupanya setelah mendaki, medannya adalah campuran mendaki konvensional dan ferrata,” ungkap Traveler Indonesia yang sudah pernah ke Ayers Rock di Northern Territory, Australia ini.
Usia Cedi tak lagi muda. Sudah kepala lima.
Namun soal tenaga dan mentalnya, tak perlu diragukan.
Jalur pendakian konvensional justru membuatnya tertantang.
“Saya sebagai pecinta alam namun bukan pendaki yang rutin plus mungkin faktor usia, medan untuk bagian pendakian konvensional cukup menantang bagi saya,” ujarnya.
Trek pendakian Gunung Kelam kata Cedi, sangat panjang, curam dan licin, apalagi saat menginjak trek bebatuan yang masih basah dan berlumut.
Menurutnya, pendakian tembok batu menggunakan tangga Ferrata yang lebih aman dan nyaman daripada tangga besi yang sudah tua dan karatan.
“Dengan pace yang pelan tapi aman, saya berhasil naik ke puncak sekitar 7 jam."
"Bersyukur teman-teman pendaki lainya bersabar dan terutama pemandunya cukup profesional, mau menyesuaikan irama kecepatan saya,” puji Cedi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/berusia-56-tahun-bukan-halangan-bagi-cheddy-daki-gunung-kelam.jpg)