Beraneka Ragam Hasil Kerajinan Tangan dari Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas II A Pontianak

"Tikar kayu yang menjadi tikar unggulan juga memiliki ciri khas tertentu. Seperti model corak insang khas Pontianak, serta ornamen lainnya

Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Pelatih Bengkel Latihan atau yang sering disebut dengan Benglat, Roldy Agus CR, S.E yang menjabat sebagai Kasi Giatja 

PONTIANAK - Satu diantara pelatih Bengkel Latihan atau yang sering disebut dengan Benglat, Roldy Agus CR, S.E yang menjabat sebagai Kasi Giatja (Kegiatan Kerja) sangat bersyukur dengan adanya benglat tersebut.

Benglat yang ia arahkan bersama dengan teman-teman serta WBP, (warga binaan pemasyarakatan) mendapat antusias yang baik dari seluruh masyarakat.

"Membuat satu hal produktif dengan harga jual yang terjangkau itu tidak mudah awalnya. Kita mencoba akan memproduksi barang apa yang bisa laku di pasaran. Hingga akhirnya kita ada membuat beberapa barang-barang dari bekas yang bisa diolah kembali," ujarnya.

Kendati demikian, saat ini mereka juga sulit mencari barang-barang bekas tersebut yang dikumpulkan baik dari pemulung ataupun pengepul. Hasil barang bekas tersebut diolah menjadi, tikar kayu, kotak tisu, pencacahan plastik, rotan sintetis dan tas.

Adapun produk unggulan dari Lapas Industri tersebut ialah "Tikar Kayu" dan kotak tisu. Seperti tas, dan miniatur kapal, juga sedang dibuat oleh WBP atas kemauan tersendiri.

Sekda Sintang Dorong Penenun Olah Kain Tenun Jadi Kerajinan Tangan

Dharma Pertiwi Daerah L Konsen Terhadap Ibu-ibu yang Miliki Bakat Kerajinan Tangan dan Pangan

Pelajaran Prakarya, Tak Hanya Membuat Barang Kerajinan Tangan Juga Diajarkan Memasak 

Hal ini karena ide kreatif merek muncul saat melihat ada barang bekas yang bisa dikelola serta keuletan mereka dalam menangani miniatur-miniatur tersebut.

"Tikar kayu yang menjadi tikar unggulan juga memiliki ciri khas tertentu. Seperti model corak insang khas Pontianak, serta ornamen lainnya yang dikembangkan menjadi nilai jual yang tinggi saat dipasaran," ujar Roldy.

Untuk harga tikar kayu sendiri berkisar Rp 800-an keatas dengan ukuran sedang, sedangkan hasil dari penjualan tikar tersebut juga dibagi kepada WBP yang ikut dalam mengerjakan hasil karyanya.

Sedangkan kotak tisu, dan taplak meja, berkisar Rp 150 ribu dengan motif unik dan menarik pastinya. Sehingga dengan penjualan tersebut, banyak sektor swasta dan instansi pemerintah yang mengorder barang-barang tersebut.

"Namun sayangnya, kita kadang suka kekurangan bahan bekas tersebut seperti kayu, maka kalau tidak mendapatkan bahan bekas, kita buat hal lainnya seperti menanam tumbuhan hidroponik," kata Roldy.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved