Kabut Asap ''Siksa'' Warga di Pontianak, Penderita ISPA Melonjak Tajam

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menegaskan beberapa minggu terakhir jumlah masyarakat yang berobat di Puskesmas karena ISPA

Kabut Asap ''Siksa'' Warga di Pontianak, Penderita ISPA Melonjak Tajam
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Kondisi udara di kota Pontianak akibat dari pencemaran kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (11/9/2019). 

Kabut Asap ''Siksa'' Warga di Pontianak, Penderita ISPA Melonjak Tajam

PONTIANAK - Beberapa minggu terakhir seiring kemarau panjang, bencana kabut asap melanda Kalimantan Barat umumnya dan Kota Pontianak khususnya.

Meskipun titik api tidak sebanyak daerah lainnya, Kota Pontianak mendapatkan asap kiriman dari daerah atau kabupaten lainnya. Bahkan pemerintah setempat kembali memperpanjang libur sekolah karena kondisi yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan murid.

Kondisi bencana asap yang melanda berpengaruh besar terhadap kondisi kesehatan warga Pontianak. Berdasarkan data warga yang berobat di Puskesmas dipastikan angka masyarakat yang mengidap inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat drastis.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menegaskan beberapa minggu terakhir seiring dengan kabut asap melanda Kota Pontianak jumlah masyarakat yang berobat di Puskesmas karena inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terus meningkat. 

Baca: Kabut Asap, Lion Air Group Batalkan 20 Flight dari dan ke Pontianak

Baca: Peduli Masyrakat Terdampak Kabut Asap, Bea Cukai Ketapang Bagikan Masker Gratis ke Warga

"Selama kabut asap melanda perminggunya jumlah masyarakat yang terserang ISPA melonjak hingga 300 orang," ucap Handanu saat diwawancarai, Minggu (15/9/2019).

Dalam kondisi normal disampaikan Handanu, masyarakat Pontianak yang terserang ISPA kisaran 700 perminggu atau 100 orang perharinya.

Namun saat kondisi asap seperti saat ini jumlah penderita ISPA mencapai 1000 orang bahkan lebih. Dengan kata lain penderita ISPA saat kabut asap melanda melonjak hingga 50 persenan.

"Penyakit ISPA inikan penyakut saluran pernapasan yang dibawa tujuh hari . Biasanya gejala pada penderitanya adalah batuk, filek kemudian bisa juga menimbulkan infeksi sehingga demam bahkan sesak napas," jelas Handanu. 

Baca: Dampak Kabut Asap! Jemaah Haji Kalbar Kloter Terakhir Batal Mendarat dan Kembali ke Jakarta

Baca: Darwilias Menyayangkan Pernyataan Wiranto Terkait Peladang Sebagai Penyebab Kabut Asap

Kabut asap seperti ini paling berbahaya adalah orang-orang yang sensitif terhadap udara kotor.

Misalnya penderita Asma, Bronkitis sehingga saat ada udara kotor mereka akan sangat terganggu dan menyebabkan sesak. Kondisi kabut asap ini akan memperberat para penderita Asma dan Bronkitis.

"Kalau orang tidak ada sensitif terhadap udara kotor biasanya tidak terlalu berat pada dirinya,"ucap Handanu.

Saat ini ia mengakui kualitas udara yang ada masih berfluktuasi dan belum mencapai kategori berbahaya.

"Jadi beberapa data ISPU kita menunjukan tidak sehat, namun belum mencapai berbahaya," pungkasnya.

Update berita pilihan tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak 

Penulis: Syahroni
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved