Darwilias Menyayangkan Pernyataan Wiranto Terkait Peladang Sebagai Penyebab Kabut Asap

Satu diantaranya dengan membuat para peladang tak lagi membakar lahan untuk membuka lahan ataupun membuat pupuk.

Darwilias Menyayangkan Pernyataan Wiranto Terkait Peladang Sebagai Penyebab Kabut Asap
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MARPINA WULANDARI
Ketum PDKB, Hendra Darwilias 

 Darwilias Menyayangkan Pernyataan Wiranto Terkait Peladang Sebagai Penyebab Kabut Asap

SINTANG- Ketua Umum Pemuda Dayak Kalimantan Barat (PDKB), Hendra Darwilias menyikapi pernyataan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto saat menggelar konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat, 13 September 2019.

Pernyataan tersebut terkait dengan ucapan Wiranto yang menyatakan bahwa Karhutla sering terjadi lantaran salah satu faktornya, masyarakat yang notabene peladang sering membuka lahan dengan cara membakar dan menurut Wiranto, hal itu terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Saat dikonfirmasi via telepon, Sabtu (14/9/2019), Ketua Umum PDKB Hendra Darwilias pun sangat menyayangkan pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan itu. Ia juga meminta Mentri Pol Hukam untuk tidak menuding peladang di Kalimantan ( notabene masyarakat Dayak ) sebagai penyebab kabut asap yang terjadi setiap Tahun di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat.

Baca: Pimpinan KPK Dituding Manja, ICW: Jokowi Ikut Melemahkan KPK

Baca: Berikut Persiapan Jelang Pelantikan 35 Calon Terpilih DPRD Mempawah Periode 2019-2024


"Tolong terjun langsung ke lapangan dan melihat langsung titik-titik api," terang Hendra.

"Saya selaku Ketua Umum PDKB meminta pak Wiranto mengklarifikasi terkait ucapannya mengenai penyebab kebakaran hutan adalah peladang. Bahkan bukan hanya saya selaku Ketua Umum PDKB tapi seluruh masyarakat Dayak sangat menyayangkan. kami selaku masyarakat dayak yang menjujung tinggi nilai-nilai adat istiadat merasa sangat tersinggung dengan apa yang sudah di sampaikan oleh Bapak Menkopolhukam dan kami meminta agar Bapak menarik ucapan tersebut," ucapnya.

Dikutip dari VIVAnews, diketahui Wiranto pada konferensi pers nya mengklaim bahwa pemerintah memiliki sejumlah upaya dan solusi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Tanah Air.

 Satu diantaranya dengan membuat para peladang tak lagi membakar lahan untuk membuka lahan ataupun membuat pupuk.

"Karena mereka berladang, di situ peladang dengan cara bakar itu kami akan alihkan peladang tanpa bakar. Kami meminta para korporasi jadi bapak asuh untuk berikan pelatihan dalam membuka lahan, tidak dengan bakar," ujar Wiranto saat konferensi persnya.

Lebih lanjut Ketum PDKB itu meminta kepada Mentri Pol Hukam Wiranto untuk tidak menyalahkan para peladang terkait kebakaran hutan.

Hendra menjelaskan dalam membuka ladang Masyarakat Adat Dayak selalu mengedepankan prinsip kearifan lokalnya, mulai dari menentukan tempat berladang, dengan meminta restu dari yang Maha Kuasa (Jubata) sampai proses pemanenan, semuanya mengikuti proses yang dilakukan.

“Sistem perladangan Masyarakat Adat Dayak bukan ladang berpindah atau peladang liar seperti yang selama ini selalu digaungkan. Sistem perladangan yang dijalankan Masyarakat Adat Dayak sejak ribuan tahun silam adalah sistem perladangan rotasi atau gilir balik," jelas Hendra.

"Perlu diketahui, peladang- peladang di Kalimantan khususnya Kalimantan Barat tidak pernah menanam padi di lahan gambut, karna tidak akan tumbuh dengan baik. Selain itu tolong hormati dan Hargai kearifan lokal di tanah Kalimantan, karna mayoritas Masyarakat Peladang adalah Dayak dan sejak dari nenek moyang kami dulu selalu melakukan Pembakaran lahan untuk menanam padi dengan adat istiadat dayak dan tidak pernah menyebabkan Kabut Asap serta kebakaran hutan dan lahan sampai puluhan hektar," tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepada Menteri Pol Hukam untuk memerintahkan Aparat TNI/POLRI serta Pemimpin Daerah. Gubernur maupun Bupati yang ada di Kalimantan khususnya Kalimantan Barat untuk menindak tegas korporasi-korporasi yang dalam Hal Ini perusahaan perkebunan yang memang sengaja membakar lahan. Terlebih jika dilihat Hotspot banyak di terdapat di daerah gambut. (Marpina Sindika Wulandari)

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved