Desa Gayung Bersambut, Suka Cita Sambut Listrik Masuk Desa
Desa Gayung Bersambut merupakan satu di antara desa yang berada di Dusun Selakau Kecil Kecamatan Selakau Timur Kabupaten Sambas
Desa Gayung Bersambut, Suka Cita Sambut Listrik Masuk Desa
SAMBAS - Desa Gayung Bersambut merupakan satu di antara desa yang berada di Dusun Selakau Kecil Kecamatan Selakau Timur Kabupaten Sambas sedang berduka cita menjelang masuknya listrik.
Desa Gayung Bersambut telah hidup dalam keadaan gelap gulita dimulai ketika malam menjelang dan ini telah terjadi selama puluhan tahun sejak desa tersebut ada.
Hal ini disampaikan oleh warga desa, Hadi Yudiarto (50), menurutnya selama hidup di desa tersebut, dirinya tidak pernah merasakan listrik dari PLN.
Selama ini warga desa hidup dengan mengandalkan genset dan pelita.
"Dalam semalam biasanya 2-3 liter (solar) yang gunakan. Genset digunakan dari magrib, ada tiga jam an lah," ungkapnya.
Baca: Kepala KPw BI Kalbar, Prijono Sebut Perbankan dan SPBU Implementasi BBM Non Tunai di Kota Pontianak
Baca: VIDEO: Siswa SMA Tenggak Miras di Kelas saat Jam Pelajaran Viral di Media Sosial, Disdik Buka Suara
Baca: Sarah Novitri Karlina Ngaku Diteror! Saksi Pihak Farhat Abbas di Kasus Video Asusila Hotman Paris
Ia merasa senang dengan adanya listrik PLN yang aka masuk ke desa. Menurutnya, walaupun warga desa banyak dibebankan dalam rangka pemasangan listrik ini, dirinya dan warga tidak merasa dirugikan sama sekali.
Ini terbukti dengan tindakan Hadi yang mengorbankan 60 pohon sawitnya demi masuknya listrik ke Desa Gayung Bersambut tersebut.
Ketika Tribun menyambangi Desa Gayung Bersambut, Tribun melihat jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh satu motor dan tidak mendukung masuknya kendaraan berat untuk membangun jaringan listrik di desa tersebut.
Hadi membenarkan jika akses jalan tidak mendukung untuk membangun jaringan listrik. oleh karena itu, warga desa secara swadaya saling membantu dan mempermudah pihak PLN untuk membangun jaringan listrik di desanya. Aksi swadaya ini merupakan inisatif warga tanpa ada permintaan dan paksaan dari PLN.
Menurutnya, untuk mengangkut material, warga menggunakan gerobak, saling pikul dan jika air sedang pasang, maka material akan dihanyutkan. Hal ini dilakukan warga dengan sukarela karena begitu antusias dan semangat untuk menyambut masuknya listrik ke desa mereka.
Ia berharap agar desanya dapat terang secepatnya dan para anak-anak dapat merasakan dan memanfaatkan listrik untuk pendidikannya.
"Selama ini kan kami ngecas hp saja keluar, apalagi menggunkan laptop dan sebagainya," ungkapnya.
Ia mengaku dengan adanya listrik kelak dirinya akan memanfaatkan untuk memajukan perekonomian keluarganya.
Selain Hadi, warga desa sekaligus fasilitator yang mengupayakan masuknya listrik PLN, yakni Amirudin, proses yang dilakukan saat pendistribusian material berlangsung dua hari, disusul dengan pendirian yang dilakukan secara swadaya oleh warga selama 4 hari dan penarikan kabel menggunakan motor selama dua hari.