Bupati Jarot: Perlu Konsep Pembangunan Berkelanjutan Pada Pengelolaan Hutan

Bupati Sintang Jarot Winarno menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam Konferensi Transfer Fiskal Ekologis

TRIBUNPONTIANAK/Wahidin
Bupati Sintang Jarot Winarno menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam Konferensi Transfer Fiskal Ekologis di Auditarium Lt. 2 Perpusatakaan Nasional RI Jalan Medan Merdeka Selatatan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019) pagi. 

Bupati Jarot: Perlu Konsep Pembangunan Berkelanjutan Pada Pengelolaan Hutan

SINTANG - Bupati Sintang Jarot Winarno menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam Konferensi Transfer Fiskal Ekologis di Auditarium Lantai 2 Perpusatakaan Nasional RI Jalan Medan Merdeka Selatatan, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019) pagi.

Dalam penyampaiannya, Jarot mengatakan bahwa memang benar kalau seluruh daerah kekurangan dana anggaran dalam menjaga hutan termasuk di Kabupaten Sintang, bahkan kekurangan itu juga dalam segala bidang.

"Bukan hanya menjaga hutan saja, tapi semua. Namun yang menjadi problem utama juga dalam mengelola hutan ialah konsep atau cara berpikir, sehingga diperlukan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development," katanya.

Menurut Jarot yang namanya sustainable kalau kita bisa menyeimbangkan antara konservasi, pertumbuhan ekonomi, dan pengakuan terhadap adat istiadat serta pembangunan sosial budaya, jadi hutan bukan beban, tetapi kekayaan.

Baca: Gandeng KPK, 5 Persen Aset Pemprov Kalbar Bermasalah dan Dikuasi Pribadi Mantan Pejabat

Baca: Polisi Tetapkan Warga Kubu Raya Sebagai Tersangka Pembakaran Lahan 274 Hektare

Baca: Mantan Komisioner KPU Bengkayang Ungkap Ingin Maju Pilkada 2020, Ini Programnya

Oleh karenanya, kata Jarot mengatakan saat ini Kabupaten Sintang saat ini tergabung dalam suatu platform yang di sebut dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) yang di dalamnya ada 10 Kabupaten di Indonesia.

"Dalam LTKL kira berkomitmen mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui hutan yang kita miliki. Kita berusaha memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi akan datang,” ujarnya.

Kemudian Jarot menyampaikan bawah Kabupaten Sintang memiliki luas wilayah sekitar 21.600 kilometer persegi, yang merupakan seluas Provinsi Jawa Barat dimana 60 persennya kawasan hutan atau 1,2 juta hektar hutan.

"Kemudian sisanya Areal Penggunaan Lain (APL) itu penuh dengan karet, sawit dan lada. Selain itu, saat ini kita juga mengembangkan potensi komoditas tanaman teh dataran rendah yang sedang dalam tahap uji coba," jelasnya.

Menurut Jarot masih banyak lagi potensi-potensi daerah lainnya di Kabupaten Sintang yang terus digali dan dikembangkan. Sehingga ke depan diharapkan dilakukan pengembangan dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi kreatif.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved