FAO Indonesia Ingatkan Hama Ulat Grayak Jagung Menyebar ke 12 Provinsi
Fall Armyworm atau ulat grayak jagung adalah serangga hama yang dapat menyerang, merusak, atau menghancurkan pertanaman jagung hanya semalam.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Fall Armyworm atau ulat grayak jagung adalah serangga hama yang dapat menyerang, merusak, atau menghancurkan pertanaman jagung dan tanaman lainnya hanya dalam semalam.
Ulat Grayak Jagung mampu bermigrasi atau menyebar ratusan kilometer dan menjadi peringatan bagi petani kecil bahwa mata pencahariannya terancam. Namun demikian Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menegaskan bahwa kerusakan yang diakibatkan oleh Ulat Grayak Jagung dapat dikurangi.
Rilis yang dikirim Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan, Fall Armyworm pertama kali terdeteksi di Indonesia pada Maret 2019 di Provinsi Sumatra Barat. Dalam waktu 4 bulan, hama telah menyebar ke 12 provinsi di Indonesia yaitu di provinsi di Pulau Sumatra, Jawa, dan beberapa bagian Kalimantan. Kementerian Pertanian telah menghimpun informasi tentang kerugian dari tanaman yang terinfeksi oleh hama tersebut.
BACA: Petani Padi di Kalimantan Barat Adopsi Pertanian Organik
BACA: Masyarakat Desa Berdaulat Atas Pangan
Disebutkan, Direktorat Perlindungan Tanaman di Kementerian Pertanian menghimbau semua provinsi untuk waspada terhadap Fall Armyworm/Ulat Grayak jenis baru (Spodoptera frugiperda). Di lapangan, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) meningkatkan kesadaran petani di daerah yang terkena dampak, dan bersama-sama mereka memantau pertanaman yang terserang.
“Kami memantau dengan seksama pergerakan Fall Armyworm di Indonesia. Petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan-red) kami telah bekerja di lapangan bersama penyuluh untuk memberi saran kepada petani tentang cara melindungi tanaman dan mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh serangan ini. Kami mengantisipasi bahwa serangan Fall Armyworm akan menginfeksi pertanaman jagung di seluruh Indonesia dalam beberapa bulan mendatang,” kata Edy Purnawan, Direktur Perlindungan Tanaman.
Hama dari Amerika
Fall Armyworm adalah hama tanaman asli Amerika. Namun, sejak 2016 telah bergerak agresif ke arah timur, menyapu Afrika, dan mendarat pertama kali di Asia pada pertengahan 2018 di India dan pada Januari tahun ini, sejak itu menyebar ke Bangladesh, Cina, Myanmar, Sri Lanka, Thailand sebelum tiba di Indonesia.
Dalam kasus Sri Lanka, ada laporan bahwa hingga 40.000 hektare telah diserang, merusak sekitar 20 persen dari tanamannya.
Cina adalah produsen jagung terbesar di Asia, dan produsen terbesar kedua di dunia. Sementara kerugian ekonomi di sana dan di negara-negara Asia lainnya belum dihitung, perkiraan kerusakan ekonomi dari hama di Afrika berkisar antara US $ 1-3 miliar.
Menanggapi serangan Fall Armyworm yang tiba-tiba di Asia, FAO telah mengadakan pertemuan dengan para pejabat dari berbagai negara di seluruh wilayah pada bulan Maret, dan membawa para pakar yang telah menangani hama di Afrika dan Amerika Latin dan mempelajari cara-cara untuk membatasi kerusakannya.
BACA: Krisis Pangan di Negeri Agraris
BACA: Program USAID Bijak Fokus Pada Keanekaragaman Hayati
Di Indonesia, FAO mendukung Pemerintah untuk menanggapi wabah dan mencari strategi tepat untuk merespons serangan dengan mengerahkan sumberdaya secara optimal.
“Pemerintah akan mengorganisir lokakarya nasional bekerjasama dengan FAO pada akhir Juli untuk menyepakati tindakan multipihak paling efektif untuk menanggapi serangan ini. Kami memanfaatkan pelajaran dari negara-negara lain ketika menanggapi serangan di negara mereka sendiri sebagai praktik terbaik untuk memperlambat penyebaran dan membatasi kerusakan," kata Stephen Rudgard, Perwakilan FAO di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ulat-grayak-jagung1.jpg)