Program USAID Bijak Fokus Pada Keanekaragaman Hayati
Dengan antusias peserta mengikuti serangkaian kegiatan yang sudah disusun oleh pihak panitia dari USAID Bijak.
Penulis: Alfon Pardosi | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Alfon Pardosi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SUKABUMI - Sebanyak 18 jurnalis dari berbagai perwakilan media yang ada di Indonesia mengikuti kegiatan training jurnalisme lingkungan, yang diselenggarakan oleh Society Of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) dari program USAID Bijak.
Training yang digelar di Hotel Lido dan dilaksanakan dari tanggal 25-27 Juli ini, para jurnalis dari perwakilan Media mendapat pelatihan yang difokuskan tentang peliputan keanekaragaman hayati. Dalam hari pertama training, peserta mendapat penjelasan tentang tujuan dari Program USAID Bijak.
Perwakilan media yang mengikuti adalah Suara.Com, New York Times, Media Indonesia, Vivanews, Sindo Weekly, Liputan6.Com, The Jakarta Post, Tempo, Jawa Pos, CNN Indonesia, Kabar Papua.Co, Harian Pagi Papua, Tribun Pontianak, Pontianak Post, Kalteng Post, Rakyat Aceh, Serambi Aceh, dan Radar Bandung.
Dengan antusias peserta mengikuti serangkaian kegiatan yang sudah disusun oleh pihak panitia dari USAID Bijak. Seperti tradisi masyarakat Indonesia, pertama-tama dalam pertemuan peserta diminta untuk memperkenalkan diri. Sebelum akhirnya mendapat penjelasan dari tujuan training itu sendiri.
Selain itu, para jurnalis juga ditekankan agar mendapat ilmu tentang peliputan isu lingkungan.
"Kegiatan kita ini lebih fokus pada keanekaragaman hayati. Karena ada sekitar 17 ribu pulau di Indonesia, seharusnya Indonesia ini kaya raya," ujar Direktur Eksekutif SIEJ, Aditya Heru Wardhana saat membuka kegiatan pada Selasa (25/7).
Sementara itu, Deputi Chief of Party USAID Bijak, Ridaya Laodengkowe, menerangkan, masalah isu lingkungan hidup saat ini tidak menjadi Perhatian Pemerintah. "Masalah lingkungan tidak menjadi perhatian pejabat-pejabat kita, temasuk tidak masuk dalam program Jokowi," katanya.
Pedahal menurutnya, dengan berkurangnya hutan di Indonesia otomatis kurangnya keanekaragaman hayati dan spesies-spesies di Indonesia. "Masyarakat awam banyak yang mengabaikan fungsi spesies tetentu, sebenarnya beberapa spesies itu menjaga keseimbangan ekosistem," terangnya.
Ridaya mencontohkan misalnya gajah, dia makan apa, lalu liur nya atau kotorannya bisa untuk kesuburan atau menumbukan tanaman lain. Maka dari itu, masalah lingkungan sangat penting untuk kelangsungan hidup. "Banyak yang abaikan fungsi keanekaragaman hayati, jadi kalau hutan tidak ada satwanya mau ke mana," ungkapnya.
Selain itu, para pewarta yang latar belakangnya berbeda-beda dalam peliputan sehari-hari. Mendapat ilmu tambahan dari Spesies Conservation Specialist WSC Indonesia, Wulan Pusparini yang memaparkan tentang spesies-spesies yang sudah punah di Indonesia.
Sedangkan untuk teknis dalam peliputan masalah isu lingkungan, peserta mendapat arahan dan bimbingan dari Mantan Wartawan Lingkungan, Harry Surjadi. Dalam pertemuan hari pertama itu, mantan wartawan Kompas ini juga menceritakan pengalamannya saat meliput isu lingkungan (Alfon Pardosi).
Caption : Training Jurnalist tentang lingkungan oleh USAID Bijak di Hotel Lido, Sukabumi pada Selasa (25/7)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/usaid-bijak_20170726_165247.jpg)