7 Mahasiswa Untan Lahirkan Website Berkahbarang.id Untuk Peduli Pendidikan di Daerah 3T

Berkahbarang.id adalah situs Crowdfunding atau situs penggalangan dana dan barang dan fokusnya ke pendidikan untuk Sekolah di 3T

Penulis: Anggita Putri | Editor: Tri Pandito Wibowo
TRIBUNPONTIANAK/Anggita Putri
Foto saat penyaluran bantuan ke Sekolah oleh Relawan Berkahbarang.id 

Penyerahan Donasi secara langsung dan melalui mitra-mitra penyalur donasi.

" Jadi Berkah Barang nggak turun ke lapangan dan memang di belakang layar aja. Kita cuman ngurusin websitenya, ngurusin kontennya biar temen-temen paham semakin banyak yang donasi ," jelasnya.

Berkah Barang sendiri punya Mitra penyalur donasi yang juga merangkap sebagai pelapor.

"Jadi kita kan menunggu laporan dari teman -teman ketika ada yang melapor mereka akan secara otomatis menjadi penyalur donasi," imbuhnya.

Jadi Berkah Barang yang buka project nya dan mencari dana dan beliin Barang lalu dikirim ke sekolah tujuan.

"Jadi pihak Mitra yang nyalurin ke adek ada di sana. Biasanya Dari komunitas, dari perseorangan dari perusahaan juga pernah," ujarnya.

Dari tahun 2017 April Berkah Barang sudah berdiri dan sudah merekrut donatur tetap sebanyak 300 orang dari seluruh Indonesia.

"Kita juga relawan bervariasi dari ujung Indonesia dari Barat sampai Timur lengkap sampak ke NTT, Sulawesi Jawa semuanya ada," ucapnya.

Ryan mengatakan Berkahbarang.id sudah membantu sekitar 6 sekolah dan dijadikan sekolah binaan.

"Jadi setiap sekolahnya bakal kita terapkan tiga fase pengembangan fasilitas pendidikan yang pertama itu kita bakal donasi barang-barang media pembelajaran seperti Infocus, laptop , video edukatif," ujar Ryan.

Jadi per Minggunya mereka bakal menampilan videonya, terus ada buku bacaan dan fokus Berkahbarang.id adalag pada literasi.

Harapan kedepannya dari Ryan selaku CEO sederhana sesuai dengan visi Berkahbarang.id ingin adik-adik yang ada di daerah perbatasan pedalaman 3T bisa juga merasakan bagaiamana rasanya mengenakan seragam yang bagus, pakai sepatu yang layak pakai , nggak lagi pakai kantong kresek.

"Harapan lainnya kita ingin mereka bisa ngerasain gimana sih nonton contoh video channel dari YouTube nya " Kok bisa" video edukatif yang sementara akses seperti itulah hanya bisa diakses oleh adek-adek di perkotaan. Kita ingin adik-adik disana bisa ngerasain apa yang pelajar di perkotaan juga rasakan ," tutupnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved