Penghargaan Bagi Mohammad Natsir, MUI Usulkan 3 April Jadi Hari NKRI, Siapa Mohammad Natsir?

Semasa hidupnya, Mohammad Natsir dikenal sebagai seorang ulama, politisi dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Jimmi Abraham
ISTIMEWA/net
Pahlawan nasional Indonesia Mohammad Natsir 

Ia juga banyak menulis tentang pandangannya terhadap agama di berbagai majalah Islam seperti Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar.

Menurutnya, Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia.

Natsir telah menulis sekitar 45 buku atau monograf dan ratusan artikel yang memuat pandangannya tentang Islam.

Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam sejak karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929. Karya terawalnya umumnya berbahasa Belanda dan Indonesia, yang banyak membahas tentang pemikiran Islam, budaya, hubungan antara Islam dan politik, dan peran perempuan dalam Islam.

Karya-karya selanjutnya banyak yang ditulis dalam bahasa Inggris, dan lebih terfokus pada politik, pemberitaan tentang Islam, dan hubungan antara umat Kristiani dengan Muslim.

Ajip Rosidi dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah menyebutkan bahwa tulisan-tulisan Natsir telah menjadi catatan sejarah yang dapat menjadi panduan bagi umat Islam.

Selain menulis, Natsir juga mendirikan sekolah Pendidikan Islam pada tahun 1930; sekolah tersebut ditutup setelah pendudukan Jepang di Indonesia.

Baca: Adelia Pasha, Istri Wakil Wakil Kota Palu Dinyatakan Bersalah Langgar Administrasi Pemilu

Baca: Sakit Hati Tak Mau Biayai Pernikahan, Jasmin Aniaya Ayahnya Hingga Tewas

Baca: AMALAN Bulan Rajab Isra Miraj 2019, Sayyidul Istighfar, Berpuasa hingga Bacaan Terakhir Bulan Rajab

Karier Mohammad Natsir

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Mohammad Natsir menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat.

Sebelum menjadi perdana menteri, ia menjabat sebagai menteri penerangan.

Pada tanggal 3 April 1950, Natsir mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen.

Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Indonesia yang mendorong semua pihak untuk berjuang dengan tertib, merasa terbantu dengan adanya mosi ini.

Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sebelumnya berbentuk serikat, sehingga ia diangkat menjadi perdana menteri Indonesia kelima oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1950.

Namun, ia mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena perselisihan paham dengan Soekarno, Soekarno yang menganut paham nasionalisme mengkritik Islam sebagai ideologi seraya memuji sekularisasi yang dilakukan Mustafa Kemal Ataturk di Kesultanan Utsmaniyah.

Sedangkan Natsir menyayangkan hancurnya Kesultanan Utsmaniyah dengan menunjukkan akibat-akibat negatif sekularisasi.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved