Kisah Kembar Siam Ana-Ani Setelah 29 Tahun! Banyak Kesamaan Diluar Nalar

Sedangkan soal kacamata patah, kacamata Ana patah di bagian kanan, sedang kacamata Ani patah di bagian kirinya pada saat yang sama.

Editor: Marlen Sitinjak
Tribunnews.com/A Prianggoro
Sosok kembar Yuliana-Yuliani yang menjadi pemberitaan hangat pada 1987 alias 29 tahun silam karena dilahirkan sebagai bayi kembar siam. 

Sang ayah, Tularji dan ibunda, Hartini, menceritakan sembari menunjukkan sejumlah kliping koran tentang pemberitaan operasi pemisahan oleh dokter ahli bedah saraf, Prof dr RM Padmosantjojo, di RSCM, Jakarta, pada 21 Oktober 1987. Saat itu usia mereka masih 2 bulan 21 hari.

"Kami dikasih tahu sama mama dan papa. Dari foto-foto operasi juga jelas," tutur Ani.

Ia mengakui, dalam keseharian, dia dan Ana kerap mengenakan pakaian dan aksesori yang sama. Padahal, sejak lulus program S1 mereka tinggal di tempat berbeda.

"Saya pernah selfie lalu upload di media sosial. Nggak lama ditelepon Mbak Ana dan tanya kok kita pakai baju yang sama. Jadi, pada hari yang sama kami bisa pakai pakaian serupa meski jaraknya jauh," ujarnya.

Berbagai Kesamaan


Lebih dari itu, Ana dan Ani mengaku mempunyai jadwal menstruasi yang sama, pernah merasakan ingin buang air kecil pada saat yang sama, hingga pernah bermimpi yang sama.

"Jadi, saya yang kesehariannya dokter, pernah bermimpi sedang bersama pasien di sebuah gedung. Yuliana nggak lama mengabarkan, ia juga bermimpi di gedung yang sama," ungkapnya.

Lantas, Ani bercerita pernah jam tangannya jatuh dan pecah pada bagian kaca. Bingkai kacamatanya pun pernah patah. Ternyata kejadian serupa dialami oleh Ana.

"Pas tiga hari berikutnya, jam tangan saya jatuh dan pecahnya di bagian yang sama dengan jam tangan Ani," ujar Ana.

BACA JUGA: Bayi Kembar Siam di Sanggau Hanya Bertahan Hidup Enam Jam 

Sedangkan soal kacamata patah, kacamata Ana patah di bagian kanan, sedang kacamata Ani patah di bagian kirinya pada saat yang sama.

 

Ani mengungkapkan, ia pernah alergi makanan hingga mengalami sakit perut. Ternyata, Ana juga mengalami hal yang sama pada waktu bersamaan di tempat berbeda.

"Lucunya, saya suka makanan pedas dan makan cabai. Tiba-tiba yang sakit perut itu Yuliana. Dia tanya saya, apa saya makan cabai. Ternyata dia sudah bisa menduga. Lalu, saya bilang minta maaf," ungkapnya.

Bagi Ana dan Ani, kejadian-kejadian tersebut menunjukkan diri mereka adalah satu jiwa atau mempunyai ikatan hubungan batin atau chemistry yang saling melengkapi.

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved