Hingga Minggu ke 16, Ada 205 Kasus DBD Dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kubu Raya

Peran serta masyarakat yang ia maksud ialah bagaimana masyarakat dalam menjaga kondisi lingkungannya agar tetap sehat.

Hingga Minggu ke 16, Ada 205 Kasus DBD Dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kubu Raya
TRIBUN/ISTIMEWA
Pasien DBD 

Hingga Minggu ke 16, Ada 205 Kasus DBD Dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kubu Raya 

KUBU RAYA - Hingga minggu ke 16 tahun 2019, Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya telah menerima laporan suspek demam berdarah (DBD) sebanyak 205.

Di minggu ke 16 kemarin, ada 9 kasus yang dinyatakan positif DBD, menderita yang umumnya anak-anak itu tersebar di beberapa wilayah. 

Diantaranya, 4 kasus di sungai Ambawang, 1 kasus di Sungai Kakap, 1 kasus di Sungai Raya, 2 kasus di Sungai Rengas, dan 1 Kasus di Sungai Durian. 

HDial itupun langsung mendapatkan penangan dari pihak terkait, yakni dengan melakukan penyuluhan dan pembagian bubuk abate, hingga fogging fokus.

Baca: Lantik Tiga Dewan Pengawas PDAM Ketapang Periode 2018 - 2021, Ini Pesan Bupati Martin

Baca: Berikan Pelatihan SIG, IAGI Siap Dukung Balitbang Kalbar

Kepala Bidang (Kabid) P2P Dinkes KKR, Mahyudin menerangkan, terkait DBD ini yang paling besar kontribusinya adalah peran serta masyarakat.

Peran serta masyarakat yang ia maksud ialah bagaimana masyarakat dalam menjaga kondisi lingkungannya agar tetap sehat.

“Di Kalbar, khususnya di Kubu Raya kita menggunakan sumber air menggunakan penampungan air hujan yang  biasa mengundang jentik, jentik inilah yang menjadi cikal bakal adanya nyamuk, ini yang perlu dipantau,” terangnya kepada Tribun saat ditemui, Rabu (15/5).

Di Kabupaten Kubu Raya, ia menerangkan sudah memiliki beberapa tempat apemantauan atau titik satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).

Jumantik ini memiliki tugas untuk memantau jentik di rumah tempat ia tinggal, dan memang diupayakan dari rumah masing-masing.

Jumantik ini kemudian juga wajib melaporkan seminggu sekali ada atau tidaknya jentik di kediamannya, namun hal itu belum cukup, menurut Mahyudin, perlu adanya tindakan menyeluruh dari masyarakat. 

“Ketika kita menyatakan rumah kita bebas jentik, kita sudah berbuat untuk rumah kita. Tapi apakah itu cukup, belum tentu, harus secara kompleks, harus secara keseluruhan. Dalam satu kompleks misalnya kita antisipasi, jadi siapapun yang menempati rumah itu wajib melaporkan, sehingga dapat menyeluruh,” katanya. 

Secara nasional angka bebas jentik minimal 95%, artimya hanya 5 persen saja jumlah jentik yang dianggap “boleh” ada di lingkungan kita. Nanun Mahyudin sadar, hal itu masih sangat jauh dari kenyataan.

Dalam Undang-undangan Kesehatan tahun 2009, juga telah disebutkan bahwa kesehatan bukan cuma tanggung jawab orang kesehatan tapi tanggungjawab bersama, yakni pemerintah, masyarakat dan semuanya ikut terlibat. 

“Masyarakat harus sambut baik juga tindakan dan kebijakan pemerintah, jangan pas kita kegiatan seremoni semua bagus, setelah itu sudah. Yang saya tekankan juga soal pemberdayaan masyarakat, yakni bagaimana kita mengajak masyarakat mau menjaga kesehatannya,” Mahyudin.

Penulis: Bella
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved