Liputan Khusus

Beredarnya Oli Palsu di Kalbar, Pengamat Nilai Kejahatan pada Konsumen

Beredarnya produk oli yang diragukan keasliannya ini bisa saja masuk dalam kategori sebagai tindakan penipuan.

Beredarnya Oli Palsu di Kalbar, Pengamat Nilai Kejahatan pada Konsumen
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Parts Sub Dept Head PT Astra International Tbk - Honda Kantor Wilayah Kalimantan Barat, Agustoni Hioe menunjukkan perbedaan produk oli asli dan yang diduga palsu di Kantor Wilayah Honda Kalimantan Barat, di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/7/2018) siang. Penggunaan oli palsu dapat merugikan masyarakat yang dapat mempengaruhi performa mesin motor hingga tidak berlakunya garansi mesin motor tersebut. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Menanggapi kenyataan beredar luasnya oli palsu di Kalbar, Pengamat Ekonomi Untan, Ali Nasrun menilai hal tersebut adalah kejahatan terhadap konsumen.

Saya kira pemalsuan merek atau oplosan adalah satu hal yang semestinya tidak boleh terjadi. Peredaran barang yang diragukan keasliannya ini, tentunya akan merugikan banyak pihak.

Baca: Dewan Harap Oli Palsu Segera Ditarik Dari Peredaran

Baca: WASPADA! Oli Palsu Beredar di Kalbar

Baca: HATI-HATI! Oli AHM Palsu Beredar Luas di Kalbar

Beredarnya produk oli yang diragukan keasliannya ini bisa saja masuk dalam kategori sebagai tindakan penipuan.

Dengan kata lain, ini adalah sebuah kejahatan terhadap konsumen.

Konsumen jelas akan sangat dirugikan. Mau asli, tapi ternyata dapat yang palsu. Oli, prinsipnya digunakan untuk kebaikan mesin.

Saat yang digunakan adalah oli yang bukan asli, manfaatnya tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga bisa saja mempercepat kerusakan pada mesin.

Peredaran oli yang diragukan keasliannya ini, jelas juga akan memperburuk citra industri dalam negeri kita. Sehingga daya saingnya akan menjadi sangat buruk.

Saya kira, ini sudah semestinya ditindak oleh pihak berwajib.

Terutama pihak kepolisian untuk menindak para pelaku yang terkait, mulai dari produksinya, sampai pada rantai distribusinya.

Teknisnya, tentu pihak kepolisian lebih mengetahuinya. Banyak aspek yang bisa dijerat, mulai dari penipuan, pemalsuan merek, penggunaan merek dagang tanpa izin dan lain sebagainya.

Halaman
123
Penulis: Ishak
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help