Wasekjen DPP Pastikan Golkar Tidak Tergantung Satu Figur Saja

Otomatis, elektabilitas Golkar juga sangat dipengaruhi kekuatan sistem.

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANESH VIDUKA
Wasekjend dan Korwil partai Golkar, Maman Abdurahman bersama DPD Partai Golkar saat menggelar konferensi pers pengesahan pasangan calon kepala daerah provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) di kantor DPD Partai Golkar (Gedung Zamrud), jalan A Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (7/10/2017) siang. Partai Golkar mengusung Sutarmidji sebagai calon kepala daerah provinsi kalbar berpasangan dengan Ria Norsan sebagai wakil kepala daerah dalam Pilkada serentak putaran ke-3 tahun 2018 mendatang. TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (Wasekjen DPP) Golkar Maman Abdurrahman menegaskan Partai Golongan Karya (Golkar) merupakan partai yang besar karena sistem, bukan satu orang figur atau sosok Ketua umumnya saja.

Hal ini menyusul lolosnya Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Setya Novanto (Setnov) dari jerat hukum kasus mega korupsi KTP Elektronik dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (30/9/2017) lalu.

Seperti diketahui, Hakim sidang praperadilan Cepi Iskandar memutuskan status tersangka Setnov tidak sah dalam kasus korupsi yang merugikan negara sekitar Rp 2,3 Triliun.

Cepi juga memutuskan KPK hentikan penyidikan terhadap Setnov. Penetapan tersangka sempat membuat preseden buruk masyarakat terhadap Setnov dan partai.

(Baca: Wasekjen DPP Golkar Harap KPK Tak Seperti Keledai )

 “Golkar besar karena kekuatan sistem yang ada, bukan figur satu Ketua Umum saja,” ungkapnya saat diwawancarai Tribun Pontianak di Gedung Zamrud, Jalan Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (7/10/2017).

Maman menambahkan Golkar bersifat Collective Collegial (bersama-sama_red) dan gotong-royong.

Otomatis, elektabilitas Golkar juga sangat dipengaruhi kekuatan sistem.

“Sampai saat ini kita belum melakukan survei terakhir, namun tidak ada pengaruh terhadap elektibilitas partai,” jelasnya.

Maman juga memastikan tidak ada dampak signifikan pasca penetapan tersangka Setnov dalam kasus korupsi Mega Proyek e-KTP oleh KPK sebelumnya terhadap persiapan jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di beberapa wilayah Indonesia.

(Baca: Pemkab Kubu Raya Akan Buat Regulasi Sistem Antrean di SPBU )

Begitu juga, pasca sidang praperadilan.

“Hubungan dengan Pilkada, saya pikir tidak ada dampak. Karena terkait dukungan kepada calon-calon Kepala Daerah itu, kembali kepada kekuatan figur kandidat yang kita dorong dan track record-nya,” tukasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved