Ramadhan 2026

Nuzulul Qur’an: Kompas dan Arah Peradaban

Sebagian memulai Ramadhan bersama kita, tetapi tak semua diberi umur untuk menapaki hari-hari terbaik di bulan yang penuh rahmat ini.

Tayang:
Editor: Nasaruddin
ISTIMEWA
Muhammad Viki Riandi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat 

Jika Al-Qur’an ingin kembali menjadi cahaya bagimasyarakat, ia harus terlebih dahulu hidup di dalam keluarga.

Membiasakan membaca Al-Qur’an di rumah, mengajak anak-anak mendengarayat-ayatnya, serta menjadikannya bagian dari percakapan sehari-hari adalah langkah kecil yang dampaknya sangat besar.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan Al-Qur’an tidak hanya belajar membaca huruf-hurufnya, tetapi juga menyerap nilai-nilai yang membentuk karakter mereka.

Selain rumah, masjid juga memiliki peran yang sangat penting.

Dalam sejarah Islam, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan pembinaan masyarakat.

Di sana orang belajar Al-Qur’an, berdiskusi tentang kehidupan, serta membangun solidaritas sosial.

Masjid pada masa Nabi bahkan menjadi pusat peradaban.

Dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya kuat dalam ibadah, tetapi juga matang dalam kepemimpinan, ilmu pengetahuan, dan tanggungjawab sosial.

Masjid-masjid kita hari ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk kembali memainkan peran itu.

Kajian tafsir yang hidup, halaqah tilawah yang rutin, diskusi keislaman yang relevan dengan tantangan zaman, serta pembinaan generasi muda dapat menjadikan masjid sebagai ruang kebangkitan nilai-nilai Qur’ani.

Ketika rumah dan masjid kembali dipenuhi oleh cahaya Al-Qur’an, maka perubahan sosial tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh.

Ia akan tumbuh secara alami dari masyarakat itu sendiri.

Itulah sebabnya Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan yang bersifat seremonial.

Ia adalah pengingat bahwa Allah telah memberikan kepada manusia sebuah petunjuk yang tidak lekang oleh perubahan zaman.

Pertengahan Ramadhan ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk bertanya kepada diri kita sendiri, apakah Al-Qur’an hanya hadir di tangan kita pada bulan suci ini, ataukah ia benar-benar menjadi cahaya yang menuntun langkah kita sepanjang tahun?

Karena pada akhirnya, kebangkitan umat tidak selalu dimulai dari panggung besar sejarah.

Ia sering kali lahir dari sesuatu yang paling dekat dan sederhanaya itu dari rumah yang kembali dipenuhi bacaan Al-Qur’an, dari masjid yang kembali hidup dengan ayat-ayatnya, dan dari hati manusia yang kembali menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Jika itu terjadi, maka Nuzulul Qur’an tidak hanya kita peringati setiap tahun.

Ia benar-benar akan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan umat manusia di tengah gelombang zaman.

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved